Pemilik PT Lampung Service ( Nino Nurmadi ) atau Lebih di Kenal Masyarakat Lampung & Indonesia Cv Lampung Service

Lampunginfo.com Portal Berita Terbaik Lampung & Indonesia. Pemasaran Kontak : 081366574266 Alamat : Jalan Raya Bumi Sari Natar Gang Bima Ruko Orange / Cv Lampung Service, Jalan Bima, Bumisari, Kabupaten Lampung Selatan, Lampung , 35362, Indonesia website : http://www.lampungservice.com/ PUSAT PELATIHAN KURSUS TERBAIK DI INDONESIA Kursus & Service All Elektronik Kontak : 081366574266

Sejarah Berdiri & Runtuhnya Dinasti Qin Chin China



Lampunginfo.com Sejarah berdiri hingga runtuhnya dinasti QIN (CHIN) di China  Sejarah Berdirinya Dinasti Chin Perjalanan Panjang Dinasti Chin Menjadi Penguasa China Dinasti Qin menurut leluhurnya pada seseorang bernama Bo Yi uang hidup semasa pemerintahan kaisar legendaris Shun. Para sejarawan. Para sejarawan mengatakan bahwa tidak berbeda dengan leluhur Dinasti Zhou, leluhur Dinasti Qin ini dahulunya merupakan salah satu anggota suku barbar Yi yang menghuni bagian barat China. Mereka selanjutnya meninggalkan budaya barbar mereka dan mengadopsi budaya China tengah. Ayah Bo Yi yang bernama Da Ye merupakan seorang putra dari wanita bernama Nuxiu. Legenda menyatakan bahwa wanita tersebut hamil setelah menelan telur burung layang-layang. Hal ini barangkali membuktikan bahwa puak Qin dahulunya merupakan keturunan suku Yi Timur (Dongyi) yang memiliki totem pemujaan berbentuk burung.

Bo Yi memiliki dua orang anak, yakni Niaoshu-shi dan Fei shi. Kata Niao sendiri berarti burung, fakta ini mungkin sekali lagi menegaskan bahwa mereka dulunya adalah anggota suku pemuja burung Yi Timur (Doongyi). Keturunan Fei shi bernama Fei Chang pernah membantu mengulingkan Dinasti Xia. Sementara itu, keturunan Niaoushu-shi bernama Zhongyan dikatakan memiliki mulut dan cakar seperti burung. Keturunan yang bernama Fei Zi hidup semasa pemerintahan kaisar Zhou Xiaowang (± 909-894 SM). Ketika kaisar Xiaowang memerintahkan Bangsawan Shen (Shenhou) untuk menyerang suku barbar Quang-rong pada tahun 909 SM, pada saat bersamaan, Fei Zi hidup di sebuah tempat bernama Quanqiu (Propinsi Shenxi sekarang) dan berhasil membudidayakan kuda di daerah sekitar Sungai Weishui. Bangsawan Shen yang putrinya menikah dengan Daluo (ayah Fei Zi), suatu saat membujuk kaisar Xiaowang agar menganugerahkan nama Ying pada keturunan Daluo agar mereka bersedia membantu mengendalikan suku barbar Xirong, dimana ini memperlihatkan betapa besarnya pengaruh keturunan Daluo pada suku barbar itu. Kaisar Xiaowang mengabulkan saran ini dan menganugarahkan keturunan Daluo sebuah negeri yang bernama Qin (Kini di timur propinsi Ganzu) dan untuk seterusnya putra Daluo dikenal sebagai Qiin Ying. Qin selanjutnya mennjadi salah satu negara bagian Dinasti Zhou.
Qin Yin dianggap sebagai raja Qin yang pertama. Sepak terjang penguasa Qin berikutnya tampak pada Kaisar Zhou Liwang. Pada saat itu suku barbar Xiring telah menyerang bagian barat Dinasti Zhou dan telah membunuh banyak kerturunan Daluo. Penguasa Qin saat itu, Qin Zhong (memerintah 845-822 SM) keturunan keempat Qin Ying ikut terbunuh. Putra pertama Qin Zhong dengan bantuan adik-adiknya menbalas dendam ayahnyadan mengalahkan suku Xirong dengan didukung 7.000 tentara pinjaman dari Dinasti Zhou. Putra pertama Qin Zhong ini kemudian mengantikan ayahnya yang telah terbunuh sebagai raja dengan gelar Zhuanggong (memrintah 821-779 SM). Ia mengamankan wilayan barat kerajaan dan menerima gelar Xichui Dafu  (atau Penguasa Agung Wilayah Paling Barat).
Pada tahun 771 SM, suku barbar Quanrong menyerang Dinasti Zhou dan membunuh kaisar Youngwang (781-771 SM). Pangeran Ji Yijui berhasil melarikan diri dan memindahkan ibukotanya kesebelah timur setelah diangkat menjadi kaisar dengan gelar Pingwang (770-720 SM). Sejak saat itu Dinati Zhou mencapai babak baru yang disebut Zhou Timur. Negara bagian Qin kemudian menjadi pelindung kaisar dari serangan suku barbar. Sebagai imbalannya kaisar menjanjikan kepada suku Qin untuk memberikan daerah Feng dan Qishan bila berhasil mengalahkan suku Quanrong serta mengambalikan kedaulatan Dinasti Zhou. Kaisar Pingwang lalu menganugerahkan gelar Xianggong pada putra raja Qin Zhuanggong yang bernama Ying Kia (memerintah 777-786 SM). Dengan bantuan raja muda Qin ini suku Quanrong berhasil ditundukan.
Raja muda Xianggong meninggal pada tahun 786 SM ketika sedang berperang melawan suku barbar Rong di Qishan dan digantikan oleh Wengong (memerintah 765-716 SM). Pada tahun ke-13 pemerintahannya, ia memutuskan untuk membangun ibu kota di Qishan, menahlukan suku Rong disana serta merebut kembali sebagian wilayah Zhou saat itu dikuasai oleh suku barbar. Raja-raja Qin berikutnya masih sering terlibat peperangan dengan suku barbar di sekitarnya.
Penguasa negeri Qin terkemuka berikutnya adalah Mugong (659-621 SM), yang berhasil menahlukan negara-negara di bagian Barat wilayah China dan menjadi penguasa belahan Barat kekaisaran. Kaisar menghadiahkan sebuah genderang emas kepada raja Qin sebagai ucapan selamat atas kesuksesannya itu.

2.2.2 Reformasi Shang Yang
Kemajuan negeri Qin bertambah pesat semasa pemerintahan Raja Qin Xiaorong (memerintah 361-338 SM).Pada tahun pertama pemerintahannya, ia mencari orang berbakat dari seluruh wilayahnya untuk membantunya memulihkan kejayaan negeri Qin. Seorang penganut aliran legalisme (fajia) yang bernama Shang Yang (?-338SM) mendengar pengumuman raja Qin dan mendaftarkan dirinya. Raja menerima lamarannya dan ia mulai mengabdi di istana Qin semenjak tahun 361 SM. Shang Yang mengajarkan bahwa pada dasarnya manusia itu jahat dan harus diperintah dengan mengunakan kekerasan. Ia adalah penganut legalisme yang menekankan penerapan hukum dengan tegas sebagai landasan bagi pembangunan negara, tetapi bukan berarti memerintah dengan kekerasan dan penindasan (teror) sehingga rakyat takut. Tegasnya, pelaksanaan undang-undang ini tidak pandang bulu, bahkan seorang bangsawan harus dihukum sesuai undang-undang yang berlaku. Kebijaksanaan yang digariskan oleh Shang Yng untuk negara Qin antara lain:
§  Menghapus gelar bangsawan berdasarkan warisan, dan hanya orang berjasa dalam peperangan yang dapat memperoleh gelar bangsawan, sedangkan anak cuccunya tidak dapat mewarisinya.
§  Menata administrasi pemerintahan dengan jalan mengelompok-kelompokan kota kecil menjadi 31 kabupaten dan mengangkat pejabat sebagai kepanjanan tangan pemerintah pusat.
§  Melarang terbentuknya keluarga besar.
§  Melaksanakan reformasi pertanian. Rakyat yang membuka lahan baru duberi kesempatan  untk memiliki lahan tersebut, sehingga pertumbuhan ekonomi meningkat dan pendapatan rakyat bertambah.
§  Menerapkan ekonomi daerah dengan jalan membagi rakyat di daerh-daerah menjadi beberapa kelonpok dan masing-masing diizinkan memilih sendiri ketua kelompoknya.
§  Menetapkan jenjang pangakat dalam kemiliteran serta anugerah atas jasa-jasa mereka, sehingga kemampuan militernya meningkat drastis.
§  Memberikan hadiah kepada petani yang sukses bercocok tanam dan menghukum mereka yang panennya berkurang. Hal ini memaksa petani untukterus menigkatkan hasil pertanian mereka.
§  Mendirikan ibukota baru di Xianyang yang lebih strategis.
§  Menetapkan suatu standar ukuran, antara lain ukuran satuan panjang, ukuran kereta, lebar jalan raya, dan sebaginya agar terjadi keseragaman di seantero kerajaan.
§  Menetapkan undang-undang yang adil dan tegas dalam pelaksanaannya. Jika putra mahkota melangar hukm, bukan ia saja yang di hukum, namun guru yang mengajarnya juga harus menerima hukuman. (Zaman dulu guru selali menetap di istana dan mendampingi putra mahkota).
Reformasi Shang Yng tersebut diterapkan pada masa pemerintahan Raja Qin Qiaogong, kurang lebih seratus tahun sebelum lahirnya Ying Zheng (Qin Shihuang) pendiri Dinasti Qin yang kelak mempersatukan kembali seluruh China. Guna memperkenalkan hukum pada rakyat, Shang Yng mengadakan sayembara untuk memindahkan sebatang tongkan kegerbanglainnya di kota itu, suatu pekerjaan yang tentunya sangat mudah dengan menghadiahkan 10 ons emas (suatu jumlah yang relatif besar menurut ukuran jaman itu). Orang menertawakan dan tidak mempecayai sayembara itu. Karena tidak ada yang bersedia mengikuti sayembara ini, Shang Yang menaikan hadiahnya menkadi 50 ons emas, rakyat masih juga tidak mempercayainya, hingga ada seorang pemuda yang melakukannya dan benar-benar di beri hadiah oleh Shang Yang. Tindakan ini membangkitkan kepercayaan rakyat terhadap hukum yang memberikan imbalan bagi seseorang yang berjasa dan menghukum mereka yang bersalah.Shang Yng menerapkan hukuman ini tanpa pandang bulu, bahkan kaum bangsawan juga tidak luput dari hukuman. Sebagai contoh, tatkala Pangeran Huewenjun melangar hukum Shang Yang menyalahkan dan menghukum guru pangeran yang bernama Gongsu Jia dengan jalan memotong hidungnya. Shang Yang juga  mengembangkan sistem saling memeta-matai dikalangan rakyat.Ia menjadikan lima keluarga sebagai saatu bao dan sepuluh bao akan dihukum bersama-sama bila mereka gagal melaporkan kejahatan yang dilakukan oleh tetangganya. Lebih jauh lagi ia juga melarang dibukanya gerbang-gerbang kota pada malam hari untuk mencegah larinya para penjahat atau buronan.
Negeri bagian Wei barusaja di kalahkan oleh Qi yang dibantu oleh seorang strategi militer bernama Sun Bin. Shang Yang mengusulkan pada raja Qin untukmenyeeerang Wei yang saat itu kondisinya masiih kacau. Qin menyerang Wei dan pengerannya yang bernama Gongsi Mau berhasilditawan dengan tipu muslihat. Penyanderaan ini berhasilmemaksa Wei untuk menyerah dan memindahkan ibukotanya dari Anyi ke Daliyang (Kaifeng sekarang) serta meyerahkan wilayahnya yang terletak di bagian barat sungai pada Qin. Atas keberhasilannya ini Shang Yang diberi gelar pangeran dan di beri suatu daerah kekuasaan.
Setelah mencapai beberapa kesuksesan Shang Yang akhirnya mulai makin membabi buta dalam menerapkan prinsipnya itu sehingga menjadi terlalu keras dan terkesan seperti teror. Banyak orang yang berubah membencinya. Seseorang bernama Zhang Liang berusaha untuk menasihatinya dengan menganjurkan agar Shang Yang tidak bertindak terlalu tegas dan keras dengan prinsipnya itu, dimana ketegasan yang berlebihan justru akan lebih banyak menimbulkan musuh. Ia mengutip Shijing yang mengatakan bahwa seseorang yang dapat memenangkan hati rakyat akan berhasil dan sebaliknya orang yang kehilangan simpati mereka akan jatuh. Selain itu, Zhang Liang juga mengutip Shangshu yang menyebutkan bahwa mereka yang melandaskan dirinya pada kekerasan akan musnah,sedangkan mereka yang menyadari dirinya pada kebijakan akan bertahan. Sebagai jalan keluarnya Zhang Liang menganjurkan agar Shang Yang untuk pensiun saja, tetapi ia menolak saran ini.
Belakangan setelahkematian Qin Xiaogong pada tahun 339 SM, orang-orang yang membencinyaberusaha untuk membalas dendam, terutama pada bangsawan yang kehilangan gelar dan hak istimewa mereka dalam hal kekebalan hukum. Gongsi Qian yang pernah dihukum oleh Shang Yang menuduhnya sebagi penghianat. Kini dari seseorang yang berkuasa dan ditakuti, Shang Yang telah berbalik nasibnya menjadi seseorang buronan. Ia berusaha melarikan diri pada malam hari tetapi gagal, karena dahulu telah diperintahkan kepadanya bahwa gerbang kota tidak boleh di buka pada malam hari (demi menjaga melarikan dirinya seorang penjahat). Dicobanya untuk beristitahat dan bersembunyo di rumah penduduk, tapi di tolak oleh tuan rumah dengan alasan bahwa dulu Shang Yang pernah melarang mereka menyembunyikan penjahat atau buronan. Shang Yang mencobamelarikan diri ke negeri Wei, tetapi rakyat dari negeri itu mngusirnya, karena dahulu ia pernah menganjurkanraja Qin menyerang mereka serta menyandera pangeranWei. Karena tidak ada jalan lain akhirnya S hang Yang terpaksa pulang ke daerh kekuasaannya sendiri dan mengumpulakn pasukan guna melakukan pemberontakan melawan Qin yang dahulu pernah diabdinya. Terapi, pasukan Qin yang lebih kuat berhasil mengalahkan dan menangkapnya. Pangeran Huewenjung yang dahulu gurunya pernah dihukum oleh Shang Yang kini telah menjadi raja mengantikan ayahnya dengan gelar Huiwang (337-311 SM). Ia masih menaruh dendam pada Shang Yang dan karenanya ia memberikan hukuman yang kejam. Tubuh Shang Yang diikatkan pada lima ekor kuda yang berlari ke arah yang berlainan hingga tercabik-cabik. Meskipun Shang Yang meninggal dengan caratragis (sama seoerti Wu Qi), sepuluh tahun setelah reformasi yang dicanagkannya itu, Qin tumbuh menjadi negara bagian terkuat di seluruh China.
Pada tahun 262 SM, Q in mengirimkan pasukannya untuk melakukan ekspedisi penahkukan ke daerah Shangdang yang merupakan wilayah negeri Han yang paling lemah. Gubernur Shangdangdengan cerdik memberikan tujuh puluh kota yang berada di bawabh kekuasaanya pada pihak Zhao dengan harapan agar pihak Qin mengalihkan serangannya ke pihak Zhao. Begitu serangan dialihkan pada pihak Zhao, Han berharap agar Zhao bersedia untuk bersekutu dengannya untuk menghentikan aksi militer Qin. Zhao segera mengerahkan 200.000 prajurit dibawah pimpinan Jenderal Lian Po untuk mempertahankan Shangdang. Ternyata ketika Lian Po tiba, Shangdangtelahjatuh ketangan Qin. Lian Po selanjutnya membangun perkemahan bagi pasukannya di tepi sungai Merah, membangun benteng pertahanan, dan menggali parit penyimpana air yang dalam. Dengan demikian pihak Zhao dapat bertahan dari serangan Qin selama tiga tahun.
Pihak Qin tentu tidak ingin peperangan itu menjadi berlarut-larut. Fan Ju, seorang strategi milliter Qin, mencoba untuk mengakhiri kondisi berimbang ini. Langkah pertama yang dilakukannya adalah menyebarkan kebohongan mengenai Lian Po bahwa Jenderak yang paling ditakuti oleh pihak Qin sesunguhnya adalah Zhao kuoyang kemampuannya sangat jauh di bawah Lian Po. Zhao termakan desas-desus ini dan mengantikan Lian Po dengan Zhao Kou. Di medan pertempuran, Zhao Kuo tertipu oleh siasat Qin dengan mengerahkan 10.000 perajurtnya melawan 3.000 prajurit Qin yang dipimpin oleh Jenderal Bai Qi. Zhao kuo berhasil memenagkanperperangan ini dan merasa bangga, padahal ini memang siasat Qin demi membangkitkan sikap takabur tadalm diri Zhao. Keesokan harinya, dua orang Jenderal Qin yang masing-masing membawa 10.000 pasukan mengempur Zhao dan membiarkannya menag guna memancingnya jauh memasuki daerah musuh. Zhao termakan siasat itu, dan secara tiba-tiba muncul dua orang Jenderal Qin lain yang masing-masing memimpin 15.000 pasukan menghadang bagian belakang pasukannya guna memutuskan mata rantai perbekalannya. Dlam pertempuran ini Zhao berhasil dikalahkan dan kelak dalam beberapa puluh tahun berikutnya negeri ini jatuh sepenuhnya  ke tangan Qin.

2.2.3 Yin Zheng Menyatukan Seluruh China dan Mendirikan Dinasti Chin
Kurun waktu pemerintahan Dinasti Qin ini sesenguhnya tergolong singkat,
yakni dari tahun 221 hingga 207 SM atau hanyasekitar 14 tahun. Kita telah mengetahui sebelumnya bahwa Qin adalah salah satu dari sekian banyak negara bagian Dinasti Zhou. Dari sebuah negara kecilia mampu berubah menjadi sebuah kemaharajaan besar yang menguasai seluruh China. Meskipun usianya hanya singkat, namun dinasti ini memiliki beberapa arti penting bagi perkembangn budaya Tionghoa. Untuk memahaminya, kita perlu mempelajari secara singkat riwayat pendiri dinasti ini yang bergelar Qin Shihuangdi.
 Kaisar Qin Shihuangdi dilahirkan pada tahun 259 SM dengan nama Ying Zheng. Masa kelahirannya merupakan saat peperangan yang tidak ada putus-putusnya diantara negara-negara bagian feodal untuk memperbutkan kekuasaan tertinggi (disebut denga “Masa Perang Antar Negeri” ysng berlangsung dari tahun 475-221 SM). Ayahnya adalah Raja Zhuangxiangwang (Pangeran Zhichu alias Yiren, memerintah 250-246 SM) dari kerajaan Qin dan Ibunya bernama Zhao Ji yangmmreupakan bekas selir pedangang kaya Lu Buwei. Para sejarawan kemudian mengatakan bahwa Zheng sesungguhnya adalah putera Lu Buwei, namun sifat-sifat anak tersebut, yakni kemampuannya dalam stategi di gabungkan dengan semangat peperangan telah menjadi ciri khas penguasa Qin sebelumnya. Ketika masih muda ayah Ying Zheng adalah sandera di negeri Zhao dan Lu Buwei telah berjasa kepadanya untuk melarikan diri dari negeri tersebut. Sebagai balas jasa Lu Buwei diangkat sebagai peerdana menteri setelahia menjadi raja. Lu kemudian dititahkan untuk menyerang ibukota Dinasti Zhou pada 256 SM dan berhasil menahlukannya. Ia membuang Kaisar serta Bangsawan Dinasti Zhou Belahan Barat ke Lingxian yang terletak di Provinsi Henan sekarang. Kaisar Zhou Nanwang serta Bangsawan penguasa Dinasti Zhou Belahan Barat wafat pada tahun itu juga, sehingga menamatkan riwayat Dinasti Zhou yang telah berkuasa selama kurang lebih 8 abad.
Tatkala berusia 13 tahun, ayahnya meninggal dan Zheng dinobatkan sebagai penguasa baru kerajaan Qin.Pada mulanya Lu Buwei dan Ratu Zhao Ji memerintah sebagai wali, namun tatkal keduanya terlibat skandal, jabatan sebagai wali rajapun diambil alih dari mereka. Semenjak tahun 238 SM, Zheng memerintah sendirian. Kerajaan Qin saat itu menganut ajaran legalisme (fajia)ShangYang, yang mengatakan bahwa pemerintahanharus diperintah dengan disiplin keras. Ajaran Shang Yang ini diterapkan semasa pemerintahan raja Qin Xiaogong, kurang lebih seabad sebelum Ying Zheng lahir, sehingga dengan demikian ia telah memiliki modal kuat untuk menyatuk an daratan China. Usaha untuk menyatukan China kini terbebankan pada pundak Ying Zheng. Antara tahun 240-221 SM, mulailah usaha Zheng untuk menahlukan seluruh China. Pada masa awal kekuasaannya, Qin telah meguasai seluruh profinsi Sichuan serta daerah Yang terletak diantara Sichuan serta Shenxi. daerah ini selanjutnya dinamakan Nan Jun. Qin juga telah menguasai bekas wilayah Dinasti Zhou dan menamaknnya San Chuan Jun.
Qin mulai menahlukan negeri-negeri yang masih tersisa satu-persatu. Pada tahun 244 SM, pasukan Qin yang dipimpin oleh Jenderal Meng Ao merebut 13 kota dari Kerajaan Han dan 2 tahun kemudian 20 kota direbut dari pihak Wei. Demikianlah, dalam serangkaian peperangan antara tahun 230-221 SM, kaisar Qin menahlukan Han, Zhao, Wei, Yan, Chu, dan Qi. Raja Han (An) menyerah pada tahun 230 SM, sedang raja Zhao menyerah pada tahun 228 SM. Ying Zheng pergike Handan, ibukota Zhao dan membantai seluruh rakyat Zhao yang dahulu pernah menghinanya semasa menjadi tahanan di sana bersama ayahnya. Salah seorang pangeran dari Negeri Zhao yang bernama Jia melarikan diri ke Prefektur Dai serta menyatakan dirinya sebagai raja Dai. Pangeran Jia kemudian bersekutu dengan kerajaan Yan. Pada tahun 227 SM mengirim seorang pembunuh bernama Jing Ke untuk membunuh Ying Zheng.
Cara yang dilakukan untuk mendekati raja Qin itu adalah dengan berpura-pura hendak menyerahkan peta negeri Yan sambil menyelipkan sebilah pisau dalam gulungan peta itu. Rencananya, ketika sedang bersama-sama membuka gulungan itu Jing Ke akan meraih belati itu dan membunuh raja, tetapiternyata gagal. Tahun 224 SM, Jenderal Wang Jian diperintahkan untuk menyerang Chu. Raja Chu Fuchu terpaksa menyerah, tetapi sementara itu Jenderal Xiang Yan dari negeri Chumengangkat Pangran Changpingjun sebagai raja Chu yang baru dan menahan serangan Qin di sebelah selatan Sungai Huai. Namun, pada tahun 223 SM, Jenderal Wang Jian dan Jenderal Meng Wu mengalahkan sisa-sisa pasukan Chu ini dan membunuh Changpingjun, sedangkan Jendeal Xiang Yan membunuh dirinya sendiri serangan dialihkan ke negeri Dai yang didirikan oleh Pangeran Jia dan berhasil menangkap rajanya. Kini tinggal Qi yang belum ditahlukan dan Ying Zheng segera mengirim Jenderal Wang Ben kesana untuk menyerang negeri tersebut. Tahun 221 SM, Raja Qi Jian meyerah tanpa syarat dan wilayahnya digabungkan ke dalam daerah kekuasaan Qin.
Kini paripurna telah meyudahi usahanya untuk meyatukan kembali seluruh China. Ying Zheng mendirikan dinasti baru sebagai dinasti penganti Dinasti Zhou serta mengelari dirinya Qin Shihuangdi, yang berarti kaisar pertama Dinasti Qin. Ia adalah penguasa pertama yang tidak mengelari dirinya wang  (raja), melainkan kaisar (huangdi). Istilah baru yang digunakan untuk mengelari dirinya ini terdiri dari dua kata, huang dan di,  yang kedua-duanya sama-ssam aberarti penguasa atau raja (penggunaan dua kata yang sama artinya ini, menegaskan bahwa Ying Zheng hendak menyatakan bahwa dirinya lebih tinggi dibandingkan dengan sekedar raja). Gelar baru bagi sebutan kaisar tersebut bertahan selama lebih dari 2.000 tahun, yakini hingga berakhirnya sistem monarki pada tahun 1911. Jeberhasilan ini menunjukan keberhasilan Ying Zheng dalam menyatukna China dari keterpecah belahannya selama ratusan tahun menjadi suatu pemerintahan terpusat yang kuat. Guna mengadakan administrasi pemerintahan, Ying Zheng membagi negerinya menjadi 36 provinsi yang dihubungkan oleh jalan raya dengan panjang keseluruhan 7.500 km, suatu prestasi yang melebihi Bangsa Romawi.
Pada masa pemerinyahannya China masih sering mengalami serangan bangsa barbar dari utara. Untuk mengatasinya, Kaisar Qin Shihuangdi memerintahkan pembangunan tembok besar yang kemudian pada praktiknya dilakukan dengan penuh kekejaman. Kendati demikian, tembok yang membentang sekitar 3.000 km in dapat dikatakan sebagai salah satu mahakarya Bangsa Tionghoa. Kaisar Qin juga melakukan standarisasi huruf dan ukuran yang berlaku di negerinya, sehingga kita pada saat ini hanya mengenal satu sistem penulisan huruf Tionghoa saja.
Terlepas dari jasa tersebut, kaisar Qin Shihuangdi merupakan seorang tiran yang kejam. Salah satu kekejaman yang dilakukannya adalahdengan membakar buku-buku karya ahli filsafat zaman dahulu yang isinya bertentangan dengan pokok-pokok pikiran legalis (misalnya Konfusianisme). Tindakan ini dilakukan untuk mencegah kritik terhadap pemerintahannya. Para sarjana yang menolak untuk menyerahkan kitab-kitab tersebut dihukum denga jalan dikkubur hidu-hidup. Sebaliknya, kitab-kkitab yang tidak perlu dimusnahkan adalah kitab-kitab yang membahas mengenai ilmu pertanian (nongjia), ilmu perang (bingjia), ramalan dan ilmu pengobatan.
Pada kenyataanya tidak semua buku-buku terlarang musnah, buktinyaa pada masa DinastiHan masih banyak orang-orang memiliki buku-buku bernafaskan ajaran rujia (Konfusianisme) itu. Salahsatu faktor yang membuat Qin Shihuangdi marah terhaddap penganut rujia adalah ketika ia hendak mengadakan upacara Fengchan (semacam upacara pengukuhan/legitimasi sebagai kaisar oleh para leluhur) di Gunung Tai, ternyata penganut rujia tidak tau bagaimana tatacara upacara Fengchan itu, bahkan sesama mereka sendiri malah saling mempertengkarkan tatacara upacara ritual itu. Faktor lain adalah kemarahan kaisar terhadap dua orang penganut konfusianisme yang bernama Lu Sheng dan Huo Sheng, karena menipu dalam pembuatan obat panjang usia. Li Si yang juga pernah berselisih dengan sarjana Konfusianisme bernama ChunyuYe juga mendukung kaisar untuk membakar buku-buku filsafat selain ajaran legalisme. Tercatat 346 sarjana menjadi korban dari kebiadaban ini. Putra mahkota Fu Su pernah memohon kepada ayahnya untuk mengampuni para sarjana yang di hukum mati tersebut, tetapi kaisar menjadi muka dan membuangnya ke daerah Changjun. Kaisar menipu para gubernur provinsi agar mengirim para sarjana Konfusianisme yang berada di wilayahnya sehingga terkumpulsekitar 700 sarjana. Mereka semua lalu dilempari batu hingga mati disebuah lembah yang belakangnya disebut dengan “Lembah Pembantaian Para Sarjana Konfusianisme”.
Pembangunan tembok besar banyak menimbulkan korban jiwa. Hal ini dikarenakan buasnya alam dan minimnya prasarana pada masa itu. Bahkan,  karena tidak ada waktu untuk memakamkannya, mayat-mayat orang yang meninggal ikut ditembok begiti saja.

2.2 Perkembangan Dinasti Chin
            Karena kekejaman dan kekerasannya, rezim Qin tidak bertahan lama dan hanya bertahan selama dua generasi. Kaisar Zheng wafat pada tahun 210 SM saat berada dalam perjalanan mengelilingi kerajaan.
seharusnya yang ditunjuk sebagai pengganti adalah putra mahkota Fu Su, yang saat itu sedang dihukum oleh ayahnya di Changjjun. Namun, Li Si (penasihat kaisar) dan Zhao Gao (seorang kasimlicik yang belakangan mengendalikan kekuasaan Dinasti Qin) memalsukan surat wasiat yang isinya memerintahkan agar Fu Su melakukan bunuh diri. Zhao Gao kemudian merekayasa agar putra kedua raja, yang bernama Hu Hai naik tahta dengan gelar Er Shihuangdi (Kaisar Kedua). Rekayasa politik ini dilakukan karena khawatir apabila Fu Su yang naik tahta, mereka berdua akan kehilangan jabatannya. Pada zamannya terjadi penindasan yang lebih besar terhadap rakyat dengan jalan menaikan pajak. Para petani yang hidupnya telah menderita dibawah Dinasti Qin melakukan berbagai pemberontakan, yang semakin subur bagaikan cendawan di musim hujan. Sejarawan terkenal pada masa Dinasti Han, Tong Zhingshu menguraikan kesengsaraan rakyat pada zaman tersebut dengan ungkapan sebagai berikut “Orang miskin kerapkali memakai pakaian lembu dan kuda serta makan makanan anjing dan babi” Belakangan, Zhao Gao menyingkirkan Li Si dengan jalan memfitnah, sehingga dia dan keluargnya di jatuhi hukuman mati.
Zhao Gao makin menanamkan pengaruhnya yang besar kepada Hu Hai dan mengendalikan seutuhnya roda pemerintahan Dinasti Qin. Untuk menunjukan betapa besar pengaruhnya pada kaisar, suatu kali Zhao Gao menghadiahkan rusa pada kaisar denagan mengatakan bahwa itu adalah kuda. Kaisar merasa kebingungan dan berkata bukankah itu rusa. Zhao Gao menyarankan agar kaisar menanyakan sendiri pada para menterinya. Menteri-menteri yang ketakutan terpaksa mengiyakan saja apa yang dikatakan Zhao Gao, kecuali beberapa menteri yang setia dan berpegang pada kebenaran. Sebagai akibat pembangkangan itu, mereka kemudian dihukum mati oleh Zhao Gao. Dengan liciknya, Zhao Gao menganjurkan agar kaisar bersenag-senang saja dan mempercayakan semua urusan negara padanya. Ia bahkan tidak pernah melaporkan pada kaisar mengenai pecahnya pemberontakan dimana-mana yang mengancam keberlangsungan Dinasti Qin dan bertapa sengsaranya rakyat saat itu.

2.3 Runtuhnya Dinasti Qin
Pemberontakan paling terkenal semasa akhir Dinasti Qin dipimpin oleh Chen Sheng, Wu Guang, Xiang Yu, dan Liu Bang. Pemberontakan Cheng Sheng serta Wu Guang, berawal pada tahun 209 SM, tatkala 900 tentara yang berasal dari Yangcheng (bekas wilayah kerajaan Chu, salah satu negara pada musim semi dan rontok serta masa perang antar negeri) hendak dipindahkan kemarkas utara di Yuyang (dekat Beijiing sekarang). Tetapi, hujan deras menghadang mereka untuk melanjutkan perjalanan itu. Pada zaman Dinasti Qin hukuman mati dapat dikenakan pada mereka yang terlambat memenuhi pangilan tugas. Karena takut di jatuhi hukuman mati, Chen Sheng dan Wu Guang, dua orang prajurit membunuh komandan-komandan pasukan mereka serta menyatakan bentrokan dengan Dinasti Qin. Selogan mereka adalah hendak membangkitkan kembaki Kerajaan Chu. Mereka berdua berhasil mengusai Distrik Qixian yang sekarang terletak di provinsi Hubei.
Chen Sheng mengutus seorang bernama Ge Ying untuk menahlukan wilayah sebelah timur, sedangkan ia sendiri memimpin puluhan ribu pemberontak yang berhasil dihimpunnya dalam hitungan bulan untuk menyerang Distrik Chenxian. Dua orang penganut Konfusianisme yang bernama Zhang Er serta Cheng Yudatang pada Cheng Sheng serta meyarankan agar ia mengangkakat kembali keturunan Dinasti Zhou sebagai penguasa pada wilayah yang berhasil direbut dari Qin. Meskipun demikian, Chen Sheng mengangkat dirinya sendiri sebagai Raja Zhang Chu, yang secara harfiah berarti “Chu yang diperluas” Ia juga mengangkat Wu Guang sebagai “Raja Tertinggi”, saat penyerangan terhadap provinsi Henan. Zheng Er dan Chen Yu meminta bala bantuan berupa 3.000 pasukan pada Wu Guang untuk menyerang bekas wilayah kerajaan Zhao. Wu Guang menyetujui permintaan ini dan memngangkat seorang bernama Wu Chen sebagai pemimpinnya.
Ge Ying tiba di daerah Jiujiang dan berjumpa dengan seorang keturuna kerajaan Chu yang bernama Xiang Jiang. Ia kemudian mengangkatnya sebagai Raja Chu, tetapi begitu mendengan bahwa Chen Sheng telah mengangkat dirinya sendiri sebagai Raja Zhang Chu, ia membunuh Xiang Jiang. Meskipun demikian, belakangan Ge Ying tetap dihukum mati oleh Chen Sheng karena pembunuhan ini. Untuk mengantikan Ge Ying, Chen Sheng mengutus Zhou Shi ke bekas wilayah kerajaan Wei guna bertempur melawan pasukan Qin yang masih bertahan disana. Wu Guang yang saat itu gagal merebut Yingyang di provinsi Henan meminta nasihat seseorang yang bernama Cai Ci dan mengirim hou Wen dalam suatu ekspedisi ke barart menyerbu ibukota            Qin di provinsi Shanxi. Dalam perjalanan menuju ke ibukota Qin, puluhan ribu orang bergabung dengannya. Kong Fu keturuna Konfusius ke-8, menyarankan Chen Sheng agar mempersiapkan diri dalam menghadapi pertempuran dahsyat dengan serdadu Qin.
Kini kita kembali pada Wu Cheng, ia ternyata telah berhasil menyeberangi sungai kuning dan merebut lebih dari 30 kota serta wilayah dan juga bekas ibukota kerajaanZhao yang bernama Handan. Zhang Er dan Cheng Yu membujuk Wu Cheng untuk mengangkat dirinya sebagai Raja Zhao. Njuran ini pun diterima sehingga saat itupun kerajaan Zhao telah bangkit kembali. Wu Chen saat itu melanggar perintah Chen Sheng untuk pergikearah barat membantu Zhou Wendan malah mengirim Han Guan ke bekas wilayah Yan di timur lalut China, Li Liang ke Chanshan (Shanxi utara), serta Jenderal lainnya ke Shangdang (provinsi Shianxi). Untuk menghadapi pemberontakan ini, Dinasti Qin mengirim pasukan dibawah pimpinan Jenderal Zhang Han yang berhasil mengusir Zhou Wen dari Celah Hangguguan.
Liu Bang dahulunya adalah seorang petani  yang belakangan berhasil menjadi kepala desa. Tokoh yang kelak akan menjadi kaisar China berikutnya ini, dilahirkan pada tahun 247 SM di Distrik Peixian yang kini terletak di provinsi Jianshu. Ia menyambut seruan Chen Sheng untuk ikut memberontak dengan jalan membunuh pejabat distrik. Xiang Yu, seorang tokoh pemberontak lainnya, beserta pamannya Xiang Liang, telah membunuh Gubernur Yin Tong dan berhasil megumpulkan 8.000 pasukan yang kemudian dikenal sebagai “Pasukan Xiang Bersaudara dari Timur Sungai Yangzi”.
Zhou Shi, orang yang sebelumnya telah diutus Chen Sheng untuk merebut bekas wilayah Wei, menyerang ibukota Wei yang bernama Dicheng. Pada saat yang beersamaan, seorang keturunan kerajaan Qi, yang bernama Tian Dian membunuh penguasa didaerahnya serta mengangkat dirinya sendiri sebagai raja. Qi. Zhou Shi menolak permintaan anak buahnya untuk mengangkat dirinya sendiri sebagai kaisar dan meminta pada Chen Sheng untuk mengangkat Pangeran Jiu, seorang  keturuna Kerajaan Wei, untuk menjadi raja, sementara itu, Han Guang, anak buah Wu Chen yang dikirim kebekas daerah Yan. enagn demikian pada saat itu, Kerajaan Chu, Zhao, Qi, Wei dan Yan telah bangkit kembali. Chu dengan Chen Sheng sebagai rajanya, Zhao dengan Wu Chen sebagai rajanya, Qi dengan Tian Dan sebagai rajanya, Wei dengan Pangeran Jiu sebagai rajanya, serta Yan dengan Han Guan sebagai rajanya.
Setelah Li Liang berhasil merebut Changshan, raja Zhao yaitu Wu Chen memerintahkan jenderalnya untu menyerang Taiyuan. Pihak Qin kemudian menerapkan siasat adu domba, dan mereka membujuk Li Liang untuk membunuh Wu Chen. Zhang Er dan Chen Yu mengangkat seorang keturunan Dinasti Zhao yang bernama Zhau Xie sebagai raja mengantikan Wu Chen. Li Liang setelah dikalahkan oleh Raja Zhao yang baru menyerah pada Jenderal Zhang Han dari Dinasti Qin, Jenderal Dinasti Qin ini sebelumnya juga telah berhasil mengalahkan serta menghalau Zhou Wen, yang kemudian bunuh diri karena kekalahan ini. Zhang Han melanjutkan ofensifnya dengan membinasakan dua orang panglima perang Wu Guang bernama Tian Zhang dan Li Gui. Selanjjutnya ia mengalihkan serangannya ke Chen Sheng yang dibunuh oleh kusirnya sendiri setelah menjadi raja selama enam bulan. Pengikut setia Chen Sheng yang bernama Lu Chen memakamkan rajanya itu di Gunung Dhangshan. Hingga di sini seolah-olah Dinasti Qin dapat mencapai kemenangannya terhadap kaum pemberontak.
Setelah kematian Chen Sheng, seseorang yang bernama Qin Jia berusaha mencari keturunanChu untuk diangkat sebagai raja Chu. Lu Chen, anak buah Chen Sheng yang telah wafat, berjumpa dengan seorang pemberontak yang bernama Qiong Bu (Ying Bu). Bersama-sama mereka merebut distrik Chenxian dari tangan pasukan Qin. Ketika mendengar bahwa pasukan Xiang Yu dan Xiang Liang telah menyeberangi sungai Yngzhi, Qiong Bu memutuskan untuk mengabungkan kekuatannya dengan mereka. Sesungguhnya, gerakan pasukan Xiang menyeberangi Sungai Yngzhi ini dimungkinkan karena tipuan yang dilakukan oleh anak buah Chen Sheng yang setia. Ia mengirimkan amanat palsu yang seolah-olah ditullis oleh almarhum rajanya, yang berisikan permohonan bala bantuan pasa Xiang bersaudara. Chen Ying seorang bekas sekretaris Dinasti Qin di Distrik Dongyang juga mengabungkan kekuatan dengan pasukan Xiang. Dengan banyaknya orang yang mengabungkan diri dengan mereka, jumlah pasukan Xiang segera berlipat ganda menjadi 40.000-50.000 orang.
Pasukan gabungan yang dipimpin oleh Xiang Yu dan Xian Liang berbaris menuju ke Pengcheng untuk mencari calon raja Chu yang baru. Ditengah jalan, pasukan Xiang terlibat pertempuran dengan srdadu Qin, tetapi Zhang Han berhasil mengalahkan mereka. Xiang Liang lalu mengalihkan serdadunya ke Xiecheng. Liu Bang bergabung dengan Xiang Liang dan diundang untuk turut serta dalam pemilihan raja Chu yang baru. Seorang keturunan Raja Chu, yang saat itu bekerja sebagai gembala ternak, direkomendasikan untuk menduduki jabatab itu. Usulan itu diterima dan ia diangkat sebagai raja Chu dengan gelar Huaiwang. Zhang Liang, kawan Liu Bei yang ditemuinya dalam perjalanan, mengusulkan agar kerajaan Han juga dihidupkan kembali. Oleh karenaya, seseorang keturunan kerajaan Han yang bernama Cheng diangkat sebagai raja.
Zhang Han kini hendak menumpas kaum pemberontak yang berada di Kerajaan Wei. Pasukan gabungan Qi dan Chu bergerak memberikan bala bantuan. Zhang Han berhasil membunuh Raja Qi (Tian Dan) dan Zhou Shi jenderal Negeri Wei. Karena kelakuan ini Pangeran Jiu, Raja Wei melakkukan bunuh diri. Xiang Yu menyelamatkan Pangeran Bao yang merupakan saudara Pangeran Jiu. Setelah mengalahkan Wei, Zhang Han mengalihkan perhatiannya ke ibukota Kerajaan Qi, yang saat itu dipertahankan oleh Tian Rong. Setelah Tian Dan wafat, rakyar Qi mengangkat adik bekas raja Qi terdahulu. Tian Jia sebagai penguasa. Namun, Tian Rong yang merupakan adik dari Tian Dan tidak menyetujui dan menolak pengangkatan ini. Xiang Yu selanjutnya membentu Tian Rong mengalahkan pasukan Qin. Kelluarga Tian Dan mengangkat putra Tian Dan sebagai raja Qi. Pasukan Xiang Liang bergerak merebut Diangtao dan berhasil menewaskan Jenderal Li You dari Dinasti Qin. Pada pertempuran selanjutnya, Xiang Liang gugur ditanngan Zhang Han. Kekalahan ini memaksa Xiang Yu dan Liu Bao untuk mundur keselatan dan memindahkan kedudukan raja Chu Huaiwang ke Pengcheng.
Mendengar bahwa Jenderal Zhang Han sedang berencana menyerang Zhao, Raja Huaiwang menitahkan Panngeran Bao dan Wei untuk merebut kembali wilayah Wei. Raja memutuskan bahwa barang siapa yang pertama kali berhasil memasuki ibukota Qin, dialah yang berhak menyandang Raja Qin. Baik Liu Bang maupun Xiang Yu meminta agar diizinkan menyerang Qin secara langsung di ibukota, tetapi pada saat itu Raja Zhao yang bernama Xie, memohon bala bantuan karena negerinya diserang oleh Zhang Han. Xiang Yu akhirnya terdorong untuk pergi ke Zhao dan bertempur malawan Zhang Han untuk membalas kemaatian pamannya, sehingga dengan demikian, Liu Bang yang mendapatkan kesempatan untuk menyerang ibukota Qin, Xianyang.
Peristiwa ini terjadi pada tahun207 SM. Menghadapi serbuan Liu Bang itu, Zhao Gao merasa ketakutan dan menyatakan bahwa Hu Hai tak pantaslagi menyandang gelar kaisar, karena para raja negeri-negeri yang sebelumnya ditahlukan oleh Qin telah bangkit kembali. Ia memaksa Hu Hai untu menyandang gelar raja saja. Kasim licik itu menyadari bahwa keadaan sudah sangat genting dan memutuskan unutk mengaakan negosiasi dengan Liu Bang serta berencana untuk membunuh Hu Hai. Zhao Gao merencanakan untuk membagi negaranya menjadi dua dengan Liu Bang, tetapi Liu Bang  menolak tawaran ini. Setelahmembunuh Hu Hai, Zhao Gao mengangkat Yi Zhing, keponakan Hu Hai menjadi kaisar. Tidak beberapa lama kemudian, Yi Zhing ganti membunuh Zhao Gao. Namun Yi Zing hanya memerintah selama 46 hari saja dan setelah itu menahlukan diri kepada Lliu Bang. Peristiwa ini menandai berakhirnya Dinasti Qin untuk selama-lamanya.

2.4 Perkembangan Seni dan Teknologi Masa Dinasti Chin
            Peninggalan terbesar Dinasti Qin adalah makam Kaisar Qin Shihuangdai yang terletak di Xi’an, yang ditemukan pada bulan Maret 1974, serta ditemukannya patung-patung prajurit dan kuda dalam ukuran besar. Kaisar Qin Shihuangdai memang memerintahkan pembuatan patung-patung prajurit itu dengan maksud dapat menyertainya di alam baka. Patung-patung ini diberi warna dari 12 hingga 13 warna.  Penyatuan, perakitan dan pewarnaanya pun di kerjakan secara manual, sehingga inilah yang membuat patung-patung teakota ini tidak ada yang sama sepenuhnya. Secara keseluruhan terdapat delapan jenis patung :
1.    Patung Jenderal, yang dapat dikenali melalui ukuran tubuhnya dan sosok yang berwibawa.
2.    Patung Pejabat Militer tingkat tinggi, dapat dikenali melalui baju zirah dan hiasan yang dikenakannya.
3.    Patung Pasukan Kavaleri.
4.    Patung pengemudi kereta perang.
5.    Patung Pasukan penunggang kuda, yang dapat dikenali melalui pelindung kepala yang dikenakan.
6.    Patung pasukan Infanteri, masing-masing memegang senjata yang berbeda-beda.
7.    Pasukan panah, dengan sosok berlutut dan akan menembakan panah.
8.    Pasukan petarung dengan tangan kosong, dengan sosok tidak bersenjata dan tidak mengenakan baju zirah.

Terlepas dari semua itu, patung-patung ini memperlihatkan tingginya mutu karya seni semasa Dinasti Qin. Makam luar biasa ini dilengkapi dengan peta China beserta tiruan sungai-sungainya yang dialiri dengan air raksa. Karya besar lainnya semasa Dinasti Qin adalah istana kerajaan yang disebut dengan Istana E Pang, bangunan indah ini dapat memuat 10.000 orang dalam ruang tengahnya saja. Karena kaisar Qin Shihuangdai berhasil menahklukan enam negara, tentu saja keseluruhan juga ada enam istana lainnya disamping istananya sendiri yang sudah sangat besar itu. Sayangnya kompleks istana ini habis dibakar oleh Xiang Yu, dan konon karena luasnya yang luar biasa itu, api berkobar selama 3 bulan. Adapun Prestasi lain yang dilakukan oleh Kaisar Qin adalah penyatuan sistem penulisan, anak timbangan, ukuran, mata uang, dan lain sebagainya.

2.5 Perkembangan Pasca runtuhnya Dinasti Chin dan Berdirinya Dinasti  Han
Peristiwa runtuhnya Dinasti Qin dan berdirinya Dinasti Han tercatat dalam sebuah kitab yang berjudul Chuhan Cunqiu atau Kitab Musim Semi dan Rontok Masa Chu Han. Liu bang berhasil menakhlukan ibukota Qin karena jenderal Xiang Yu harus menghadapi pasukan Qin dikerajaan Zhao. Begitu Jenderal Xiang Yu tiba di Julu, pasukan gabungan segera bertempur melawan sisa-sisa pasukan Qin. Setelah Xiang Yu berhasil menggempur pasukan Qin, ia bergerak menuju Celah Hanguguan sampai jalan masuk menuju Xianyang (ibukota Negeri Qin) dan berjumpa dengan pasukan Liu Bang. Merasa akan kalah untuk menghadapi pasukan Xiang Yu, ia pun mengundurkan diri ke sebuah kota kecil di dekat Xianyang. Xiang Yu tetap diberi kesempatan untuk memasuki Xianyang , namun ternyata mereka merusak  istana Qin. Disini kita lihat pasukan Liu Bang mengalah  terlebih dahulu agar tidak perlu melawan pasukan yang lebih kuat, demi mencapai kemenangan di masa yang akan datang.
Pembagian China terjadi pada tahun 206 SM  dan nama Dinasti Han yang kelak didirikan oleh Liu Bang berasal dari nama kerajaan yang dibagikan Xiung Yu itu kepadanya. Setelah pembagian wilayah diantara panglima perang ini, tidak lama berselang terjadilah perang saudara diantara mereka. Xiang Yu yang telah memporak-porandakan ibukota dinasti Qin kemudian meninggalkan tempat itu dan bertolak menuju ke Pengcheng. Untuk memperlihatkan bahwa seolah-olah ia tidak berambisi sedikit pun untuk terlibat dalam perang saudara itu, Liu Bang atas nasihat Zhang Liang menghancurkan jembatan kayu yang merupakan satu-satunya jalan masuk ke Negerinya, sambil memperkuat angkatan perangnya sendiri secara diam-diam. Tidak lama berselang , angkatan perang yang dipimpin oleh Han Xin tiba di wilayah Yong dan berhasil mengalahkan rajanya yang bernama Zhang Han. Dalam waktu kurang sebulan, raja Sima Xin dari Sai dan Dong Yi dari Di juga menyerah. Kini tiga wilayah bekas kerajaan Qin menjadi daerah kekuasaan Liu Bang.
Guna menghadapi manuver Xiang Yu, Liu Bang mengangkat Han Xin sebagi Raja Han tandingan. Pada tahun 205 SM, Liu Bang mengirimkan rombongan untuk menjemput ayah dan istrinya, tetapi rombongan ini dihentikan oleh Xiang Yu. Akan tetapi di lain tempat pasukan Liu Bang berhasil menahklukan Zheng Cheng Raja Han, Sheng Yang Raja Henan, dan Sima Mao Raja Yin yang melarikan diri di Chaoge. Setelah menerima saran dari sosok orang tua bernama Donggong untuk melaksanakan acara perkabungan selama tiga hari bagi Kaisar Yidi yang telah dibunuh oleh  Xiang Yu di Xianyang. Beberapa Raja lain pun ikut serta menggabungkan kekuatannya dengan Liu Bang. Sehingga mereka pun berhasil merebut ibukota Chu, Pengcheng, tanpa pertumpahan darah.
Mendengar  bahwa ibukotanya telah direbut, Xiang Yu memimpin 30.000 pasukannya untuk melakukan perlawanan, dan telah berhasil menewaskan 100.000 pasukan Liu Bang. Beruntung sekali nasib Liu Bang yang berhasil meloloskan diri dari marabahaya itu meski setelah memohon  belas kasihan pada dua orang Jenderal Chu. Belakangan, Liu Bang berhasil berjumpa dan bergabung kembali dengan tentearanya yang dipimpin oleh Lu Ze dan melanjutkan pertempuran melawan Xiang Yu. Han Xin bergabung dengan Liu Bang di Yingyang, serta berhasil mengalahkan pasukan Chu diberbagai tempat. Kenudian Liu Bang mengangkat puteranya yang berusia 5 tahun, Liu Ying, sebagai putera mahkotadan memerintahkan jenderalnya yang bernama Xiao He menjaga wilayah yang berada di dalam Celah Hanguguan. Raja Wei yang bernama Bao, dimana  yang semula ia meminta izin kepada Liu Bang untuk pulang ke kampung halamannya, sekembalinya ia disana ia malah menerbitkan pemberontakan melawan Liu Bang. Namun seketika Han Xin diutus oleh Liu Bang untuk memadamkan pemberontakan tersebut. Han Xin sengaja membuat perahu –perahu perang di Linjin untuk mengecoh pasukan Wei, akan tetapi secara diam-diam ia membuat jembatan dari kayu di Xiayang dan mengalahkan pasukan Wei di Dhongzan. Pasukan Han berhasil pula merebut kota Anyi. Sementara itu di Quyang Han Xin berhasil menawan Wei dan dilanjutkan dengan menahklukan ibukota Wei di Pingyang.
Selanjutnya Han Xin meminta 30.000 tentara guna menahklukan kerajaan Zhao. Han Xin berencana menahklukan Zhao, Yan, dan Qi sebelum menahklukan Xiang Yu. Pertempuran sengit pun segera pecah dan pihak Zhao berhasil dikalahkan dan Rajanya Zhao Xie dihukum mati oleh Han Xin. Raja Yan Zang Tu berhasil di bujuk oleh Han Xin untuk menyerah secara damai, dan Raja Qiujiang berhasil dibujuk untuk menyerah dan bergabung dengan Liu Bang. Akhirnya, seluruh Rajamuda berhasil disatukan di bawah panji-panji Liu Bang.
Lawan Tangguh Liu Bang kini tinggallah Xiang Yu. Pertempuran yang menentukan dilancarkan di suatu tempat yang kini menjadi bagian provinsi Anhui. Karena putus asa Xiang Yu melarikan diri, Yuji selirnya membunuh dirinya sendiri agar tidak menyusahkan Xiang Yu. Xiang yu kini mulai merasa hidup sudah tidak ada artinya lagi, dan ia pun ikut bunuh diri menyusul selir kesayangannya itu ke alam baka. Kini terbukalah jalan bagi Liu Bang untuk mengangkat dirinya sendiri sebagai Kaisar pertama Dinasti Han. Peristiwa ini terjadi pada Tahun 202 SM.


http://intanzaki28.blogspot.co.id/2014/04/sejarah-dinasti-chinqin-masa.html

------------------------------------

Qin adalah sebuah dinasti yang berlangsung singkat dalam durasi (221-206 SM) tetapi memiliki peran yang sangat penting dalam sejarah Cina. dinasti ini merupakan kelanjutan dari dinasti Zhou (1046-256 SM) dan berakhir ketika Liu Bang menjadi raja Han di 206 SM (awal resmi dari dinasti Han). Meskipun betapa singkatnya, dinasti Qin meninggalkan bekas penting pada budaya Cina. Bahkan, nama “Cina” berasal dari nama Qin (“Ch’in” dalam bekas sistem Romanisasi). Setelah Dinasti Zhou, China menjadi terlibat dalam konflik  tak berujung antara berbagai daerah untuk kontrol tertinggi negara. Periode ini konflik dikenal sebagai periode Negara Berperang  (426-221 SM). Serangkaian kemenangan oleh negara Qin menjelang akhir periode Negara Berperang melengkapi penaklukan mereka pada 221 SM ketika kekaisaran Qin menyatukan Cina untuk pertama kalinya dalam sejarah.

bc_210_qinchina

ASAL USUL KERAJAAN QIN

Selama dinasti Zhou China tidak pernah menjadi sebuah kerajaan bersatu: Pemerintah Zhou memiliki kemiripan kuat dengan beberapa bentuk feodalisme di Eropa abad pertengahan, yang mengapa pada zaman kerajaan Zhou kadang-kadang disebut sebagai zaman feodal. Cina terdiri dari jaringan –negara kota yang setia kepada raja Zhou, dimana kontrol militer dan politik tersebar di desa-desa pertanian di sekitarnya.

Kira-kira pada 771 SM, invasi barbar mengarah ke penguasa Zhou di timur. Selama ini, negara Qin bertanggung jawab untuk menjaga perbatasan barat dan mereka secara bertahap pindah ke timur dan akhirnya menduduki daerah Zhou asli. Jadi Qin menjadi sekutu dekat dari Zhou dan mereka juga memiliki hubungan pernikahan dengan kelompok berkuasa Zhou. Raja Ping dari Zhou (r. 770-720 SM)menyerahkan gelar kaum bangsawan dan tanah yang luas untukpemimpin Qin. Banyak sejarawan Cina menganggap hal ini sebagai sesuatu yang sangat penting untuk negara Qin. Qin pada waktu itu,  menyadari fakta bahwa mereka bisa menjadi kekuatan besar. kedudukan bangsawan untuk Qin memiliki arti bahwa Qin bisa menjadi lebih ambisius dan lebih baik dalam menangkis serangan dari daerah sekitarnya. Sebagai akibatnya, pada abad ini dihabiskan oleh qin dalam memerangi suku-suku non-Cina yang berguna dalam membantu Qin mendapatkan pengalaman berharga untuk perang dan ekspansi wilayah.

Dari sekian banyak negara Cina, Qin memiliki keuntungan dari lokasi yang menguntungkan: Wilayahnya di provinsi Shaanxi modern dijaga dengan baik dari timur oleh pegunungan dan ngarai dan memiliki akses mudah ke dataran Cina Utara melalui jalur Sungai Kuning . Tidak ada pertempuran besar yang pernah terjadi di jantung negeri Qin.

Selama periode Negara Berperang, semua negara di Cina berusaha untuk menarik lebih banyak kekuatan dan prestise untuk diri mereka sendiri. Negara-negara Qin dan Chu adalah yang terkuat diantara  yang lainnya disebabkan, lokasi dari dua negara bisa mengontrol sumber daya yang luas. Mereka juga mampu memperluas perbatasan mereka tanpa takut konflik mendesak, tidak seperti negara-negara lain, dan seterusnya bisa memperoleh masih sumber daya lebih lanjut. manfaat ini, dan lain sebagainya seperti besarnya tentara Qin dan menggunakan keahlian mereka tentang kereta, memberikan kontribusi terhadap keberhasilan mereka dalam peperangan. Qin memiliki semua sumber daya dan keuntungan tapi apa yang pada akhirnya memberi mereka kemenangan atas negara-negara lain adalah kekejaman mereka dalam pertempuran. seorang negarawan Qin Shang Yang (356-338 SM) menganjurkan perang total dan mengabaikan etika dalam  pertempuran yang selalu ditaati oleh para jenderal Cina. pelajarannya yang diimplementasikan oleh Ying Zheng, Raja Qin, yang tampil sebagai pemenang dari periode Negara Berperang dan menyatakan dirinya Shi Huangti – `kaisar pertama ‘- dari Cina pada 221 SM. Sekitar 230 SM, ketika kampanye akhir untuk menyatukan Cina mulai, diperkirakan bahwa Qin mengendalikan sepertiga dari semua lahan budidaya di Cina dan sepertiga dari total penduduk China

PENCAPAIAN PADA DYNASTY QIN

Pada awal Kekaisaran Qin, praktek Legalisme mencapai puncaknya dalam sejarah Cina. gagasan ini menjadi kebijakan negara yang dirancang oleh Shang Yang yang datang ke qin sebagai penasihat luar negeri. Qin pada awal-awal masih kurang, dalam keterampilan intelektual  dan politisi oleh karena itu, harus melihat lebih jauh di daerah perbatasannya untuk orang-orang yang berbakat. Shang Yang adalah salah satu dari orang-orang berbakat dari luar qin dan dia  memiliki pengaruh yang besar pada Kekaisaran Qin. Selama ia sebagai menteri, Shang Yang secara radikal merenovasi kebijakan pemerintah tetapi, pada kenyataannya, ia hanya menghidupkan kembali praktik yang sudah ada selama bertahun-tahun bentuk pemerintahan dengan fokus pada efisiensi yang lebih besar dan tidak terlalu patuh terhadap tradisi di mana ketaatan pada ketentuan hukum tertulis lebih penting (sehingga dinamakan `Legalisme ‘). Kaisar Shi Huangti menyetujui kebijakan Shang Yang dan menerapkannya di wilayah kekuasaannya. Bentuk pemerintahan yang terdiri dari program kolektivisasi dan penipisan kekuasaan aristokrat. Petani dibebaskan dari perbudakan dan Shi Huangti mengurangi kekuatan aristokrasi. Orang-orang di seluruh kekaisaran sekarang seharusnya memikul tanggung jawab bersama untuk satu sama lain. Jika seseorang tidak berperilaku sesuai dengan aturan maka orang lain diharuskan untuk melapor kepadanya. Jika mereka tidak melakukan hal ini, mereka dicincang atau dipenggal. Rasa takut dan kontrol adalah Fitur utama dari sistem politik ini. Selain itu, satu kepentingan pribadi untuk kerajaan  juga merupakan sebuah elemen kunci. Jika Anda, sebagai pribadi,tidak berarti apa-apa untuk negara, Anda juga benar-benar tidak berarti apa-apa secara objektif; jadi hidup Anda tidak ada artinya. Mereka yang memberikan kontribusi paling besar kepada negara akan sangat dihargai sementara mereka yang hidupnya dianggap tidak ada kontribusi apa apa akan dikirim untuk bekerja sebagai budak di proyek bangunan Shi Huangti ini seperti Great Wall of China, Grand Canal, dan jalan-jalan yang meningkatkan kemudahan perdagangan dan wisata.

Hasil lain dari Legalisme dari Shi Huangti adalah bahwa beasiswa dikurangi dan angka buta hurup ditingkatkan untuk mayoritas rakyat. Shi Huangti percaya bahwa orang yang tidak berpendidikan akan lebih mudah untuk di kontroll dan orang-orang harus tetap bodoh sehingga mereka tidak akan pernah berpikir untuk meragukan apa yang di katakan kekaisaran. Kebijakan ini mengakibatkan pembakaran buku pada skala besar dan, pada tahun 212 SM, atas saran dari kepala penasihat Li Siu, Shi Huangti memutuskan menghukum mati para cendikiawan dalam skala besar. Buku buku dilarang di seluruh kekaisaran, seperti mengajar, kecuali untuk mata pelajaran yang bersentuhan pada sejarah yang ditulis ulang dari Dinasti Qin, Legalisme, atau kemuliaan pribadi Shi Huangti. Barulah kemudian pada jaman dinasti Han buku-buku ditemukan dari persembunyian dan diperbaiki, dan tulisan tulisan tersedia   lagi untuk orang-orang China.

Meskipun  Legalisme Shi Huangti dan Shang Yang  (serta kebijakan Li Siu) dibenci oleh banyak pada saat itu (dan sudah umumnya tidak disukai oleh para cendekiawan pada periode tersebut), tapi kemudian raja Qin dan kaisar China sangat menyadari dampak yang kuat dari Legalisme pada efisiensi dan kekuatan negara. Legalisme membantu untuk menciptakan tentara yang unggul, birokrasi disiplin, rakyat yang taat, dan otoritas tidak diragukan lagi dari pemerintah pusat yang kuat. model birokrasi ini menjadi standar untuk pemerintah Cina dan masih dipertahankan dalam beberapa bentuk hari ini. Meskipun Konfusianisme lebih disukai pada dinasti setelahnya, Legalisme terus memberikan pengaruh yang kuat di Cina. Itu merupakan kasus yang sering terjadi dimana Legalisme kejam itu dipoles dengan hanya nama yang berbeda dan, cukup sering, sebagai `Konfusianisme ‘.

AKHIR  KEKAISARAN QIN

Pada tahun 210 SM kaisar Shi Huangti meninggal pada sebuah perjalanan keliling kerajaan. Orang-orang diberitahu bahwa perjalanan ini dirancang untuk inspeksi kekaisaran namun buktinya belakangan menunjukkan bahwa kaisar sedang mencari ramuan keabadian. Dalam tahun-tahun berikutnya, Shi Huangdi menjadi terobsesi dengan kematian dan harapan hidup yang kekal. Dalam ketakutan pembunuhan, dikatakan bahwa, dia tidak pernah tidur di kamar yang sama di istananya dua malam berturut-turut dan ia memerintahkan pembangunan makamnya yang rumit  (termasuk prajurit terakota nya) pada awal pemerintahannya. Penyebab kematiannya masih belum diketahui. Li Siu (c. 280- 208 SM), kemudian menjadi perdana menteri kaisar , mencoba untuk menyembunyikan fakta bahwa Shi Huangti telah meninggal dengan cara apapun mungkin. Dia membawa tubuh kaisar kembali ke ibukota bersama dengan gerobak ikan mati untuk menutupi bau mayat. Seiring dengan Zhao Gao (meninggal 208/207 SM) Li Siu merancang untuk menempatkan Hu Hai atas takhta. Hu Hai adalah anak kedua Shi Huangti yang lemah. Karena kelemahan Hu Hai, orang-orang tertindas dari China makin berani dan segera mulai memberontak.

Melalui serangkaian pemberontakan dan aliansi pemberontak, otoritas Qin digulingkan pada tahun 206 SM di ibukota Xianyang. Rumah Kaisar dibantai dan dinasti Qin dengan demikian berakhir. Serangkaian pertempuran rumit  kemudian diikuti untuk mendapatkan kehormatan menjadi penerus Dinasti Qin yang mengakibatkan periode yang dikenal sebagai Pertarungan Chu-Han di mana Xiang-Yu dari negara Chu melawan Liu Bang dari Han untuk supremasi. Liu Bang menang menyusul kekalahan Xiang-Yu pada Pertempuran Gaixia di 202 SM. Liu Bang (247 BCE- 195 SM)  bertepuk tangan sebagai seorang rakyat dan, setelah kemenangannya, mendirikan Dinasti Han.

PENINGGALAN DARI DINASTI QIN

Seperti disebutkan sebelumnya, Legalisme memiliki efek yang berlangsung pada keseluruhan sejarah Cina. Dinasti Qin menciptakan standar pemerintah birokrasi dan kebijakan legalistik pertama diprakarsai oleh Qin masih terlihat di Cina hari ini. Selain itu, dinasti meninggalkan keajaiban karya seni kuno: Tentara Terracotta di Xi’an. Makam ini mencerminkan karakter dari kaisar Cina dan keinginan tak berujung untuk menjadi abadi. Tentara terakota juga menjadi contoh apa yang di produksi masyarakat Cina pada waktu itu  setelah itu telah terbentuk sebagai sebuah negara. warisan yang paling terkenal yang ditinggalkan oleh Qin adalah The Great Wall of China. Meskipun struktur sekarang tidak diketahui tanggalnya dari Dinasti Qin, itu dimulai di bawah Shi Huangti, seperti Grand Canal, dan jalan-jalan yang saat ini menghubungkan kota-kota Cina dan pedesaan. Qin melakukan lebih dari hanya menemukan sebuah dinasti di China: mereka membawa benua bersama-sama.

3e6d0e2fb46f4399a6f646fb

cc8a805c806549e18b7bc009113e71beb78a567fefc2c59b586840f1

jenderal Dinasti Qin

Bai Qi
Bai Qi adalah seorang pemimpin militer yang luar biasa dalam dalam negara pada Periode Negara berperang. Lahir pada bulan mei. Sebagai komandan selama lebih dari 30 tahun, Bai Qi membunuh dengan total 1.650.000 tentara, merebut 70 kota  6 Negara  lainnya pada Periode Negara Perang. Tidak ada catatan ditemukan untuk menunjukkan bahwa ia dikalahkan bahkan sekali sepanjang karir militernya.

Ia dipromosikan dari Zuo Shu Zhang ke Da Liang Zao oleh Raja Zhaoxiang Qin. Dia telah memerintahkan perang terhadap negara, dan, merebut wilayah yang besar dari negara-negara ini. Pada 278 SM, dia memimpin tentara dari Qin untuk mengambil Ying, ibukota negara Chu. Pada hadiah sebesar ini, ia mendapatkan gelar sebagai Sir Wu An, karena ia membawa perdamaian ke Qin dengan menaklukkan musuh-musuhnya.

Selama Pertempuran Changping di 260 SM, dia berhasil mengangkat Wang he sebagai komandan tentara Qin, dan segera mengalahkan tentara yang dikomandoi oleh Zhao Kuo. tentara Zhao dipecah menjadi dua bagian dan garis pasokan dipotong oleh Bai Qi. Lebih dari 400.000 tentara Zhao, yang menyerah setelah Zhao Kuo ditembak jatuh oleh pemanah Qin, diputuskan untuk dikubur hidup-hidup oleh Bai Qi.

Pada 257 SM, Qin harus kalah di Handan, ibukota Zhao, Raja Qin memerintahkan dia untuk mengambil alih tentara sebagai komandan. Bai Qi, bagaimanapun, percaya bahwa itu bukan waktu yang tepat untuk menyerang Zhao, sehingga ia menolak perintah raja dengan alasan tentang penyakitnya. Perdana Menteri Qin, Fan Ju mencoba membujuk Bai Qi, tapi ia gagal. sang raja, oleh karena itu, harus menggunakan, jenderal militer terkemuka lain untuk Qin, bukan Bai Qi, sebagai komandan. Namun demikian, keputusan ini tidak membantu tentara Qin dalam pertempuran sama sekali. Setelah kekalahan lebih dari 5 bulan terus-menerus di Handan, raja memerintahkan Bai Qi menjadi komandan lagi. Bai Qi, yang percaya Qin tidak dapat memperoleh kemenangan dalam pertempuran ini, menolak permintaan dengan alasan sakit nya, sekali lagi. Mengalami penolakan beberapa kali, Raja, yang telah menjadi marah, menghapus semua gelar dari Bai Qi dan memaksa dia untuk meninggalkan Xianyang, ibukota Qin. Selain itu, perdana menteri  Qin, Fan Ju, merasa dia telah kehilangan muka oleh penolakan Bai Qi, membuat Raja Qin percaya bahwa Bai Qi akan bergabung negara lain sebagai jendral dan menjadi ancaman bagi Negara Qin. Diyakinkan oleh Fan Ju, Raja Qin kemudian memaksa Bai Qi bunuh diri di Duyou

Fan Yuqi(qin)
Fan Yuqi, yang hidup pada periode Negara Berperang, dikatakan seorang jenderal Qin yang mengkhianati negaranya. Ia melarikan diri ke negara bagian Yan dan kemudian bunuh diri karena membantu pembunuh Jing Ke yang terkenal  dalam mensukseskan pembunuhan dari Ying Zheng, raja Qin. Di TV drama seri ” sang pembunuh Jing Ke ”, Fan Yuqi digambarkan sebagai seorang jenderal Qin yang heroik yang dipaksa untuk berbalik melawan negara sendiri oleh Li Si. Juga, Fan Yuqi dan Jing Ke tumbuh bersama sejak kecil di Lembah Lively, dan kemudian melanjutkan dengan cara mereka.

Li Mu(Zhao)
Li Mu dikatakan sebagai jenderal besar terakhir yang berasal dari periode Negara Berperang. Setelah kematian Zhao he dan mengasingkan Lian Po, dua jenderal besar Zhao; ia memegang komando keamanan secara keseluruhan Zhao, yang saat ini menjadi sangat penting  untuk menghadapi ekspansi ke barat dan Xiongnu di utara. Pada awalnya Li Mu lebih peduli dengan serangan orang-orang Hun yang gencar di perbatasan Zhao, dan memimpin beberapa kampanye melawan mereka; kemudian saat ancaman dari Qin meningkat dengan naiknya Qin Shi Huang, ia mengalihkan fokus lebih ke bagian barat Zhao.

Kerajaan Zhao, pada saat itu, hanya sekadar bayangan dari pendirinya. tentaranya pada dasarnya sudah dimusnahkan selama Pertempuran Changping, pukulan yang tidak akan pernah pulih lagi, tidak seperti lawan menang nya Qin,  yang secara diplomatis terisolasi dari Kerajaan, dan terlalu lemah untuk menawarkan raja negeri dukungan serta  lebih bersedia untuk melihat Kerajaan dihapuskan daripada menghadapi kerajaan Qin  yang kuat bersama-sama. Sebagian besar wilayah inti telah jatuh ke tangan qin lebih awal setelah pertempuran Changping, dengan hanya beberapa kota yang tercatat.

 Li Mu, bagaimanapun, dengan sumber daya yang terbatas, masih bisa bertahan melawan kekuatan musuh; meskipun, diakui, ia tidak menghadapi siapa pun yang punya  bakat  seperti Bai Qi, namun, dilihat dari situasi, itu masih bukan prestasi berarti. Jadi sementara Qin bisa bermain-main di dalam kerajaan Wei dan Han, di dalam Kerajaan Zhao sendiri, mereka punya waktu penjarahan yang jauh lebih sulit . Menyingkirkan Li Mu menjadi suatu keharusan jika Qin  berharap untuk menaklukkan Zhao dan menyatukan Cina. Jadi Qin mengirim mata-mata ke istana Zhao, menyuap pejabat penting istana dalam rangka mempengaruhi Raja Zhao kalau Li Mu berencana untuk memberontak dan seharusnya disingkar dengan segera. Rencananya berhasil dengan gemilang – Li Mu ditangkap dan segera dieksekusi atas perintah raja.

Dengan kematian Li Mu aneksasi Zhao menjadi tak terelakkan. Dalam waktu 10 tahun akan hancur dan Negara Zhao akan memudar dalam sejarah.

Lü Buwei(Kanselir Qin)
Lu buwei adalah seorang pedagang di Periode Negara Perang yang dengan cara  menjadi gubernur . Ia menjabat sebagai Kanselir China untuk raja Zhuangxiang dari Qin, dan sebagai Bupati maupun Kanselir untuk anak belia raja Zheng, yang menjadi Qin Shi Huang, Kaisar pertama dari Cina. Lu buwei bunuh diri setelah dituduh terlibat persekongkolan dengan  Ratu Janda dan dia sebagai kekasih sang ratu. Lu terutama telah mensponsori rangkuman Seratus ensiklopedis  Sekolah filsafat , 239 SM ” Lushi Chunqiu ”.

Sumber utama atas informasi mengenai masa lu buwei dari abad pertama SM: Sima Qian ” Catatan Sejarah Agung ” dan ‘s’ ‘Zhan Guo Ce’ ‘dan’ ‘Shuoyuan’ ‘. Sejak ketiga naskah Dinasti Han ini secara terbuka mengkritik baik Lu dan Dinasti Qin, beberapa cerita diduga dapat diabaikan. Catatan: terjemahan bahasa Inggris berikut datang dari John Knoblock dan Jeffrey Riegel itu studi ilmiah tentang ” Lushi Chunqiu ”. Dalam ‘biografi’ Shiji ” tentang lu buwei mengatakan dia adalah seorang Berasal dari negara Wei yang menjadi pedagang keliling yang sukses dan mendapatkan “ribuan langkah emas.” Pada 267 SM, putra pertama dari Raja Zhaoxiang Qin meninggal, dan ia menjadikan putra keduanya, Penguasa Anguo, putra mahkota. Anguo dipromosikan selir Lady Huayang, yang tak punya anak, sebagai istri utamanya. Anguo memiliki lebih dari 20 anak laki-laki, dan Pangeran Yiren, salah satu dari yang peringkat menengah, dikirim sebagai sandera politik Qin ke negara bagian. Ketika Lu berdagang di Zhao ibukota Handan, ia bertemu Yiren dan berkata, “Ini adalah bagian langka yang harus disimpan untuk nanti.”

Dalam ” Zhanguoce ” memiliki  sebuah cerita tentang Lu yang memutuskan untuk mengubah karier dari pedagang menjadi pemerintah. Saat kembali ke rumah, ia berkata kepada ayahnya, “Apa keuntungandari investasi yang dapat diharapkan  seseorang dari membajak lahan?” “Sepuluh kali investasi,” jawab ayahnya. “Dan laba atas investasi dalam mutiara dan permata seberapa banyak?”seratus kali lipat” jawab ayahnya. “Dan pengembalian investasi dari membentuk pemerintahan dan mengamankan negara akan seberapa banyak?” “Ini akan menjadi tak terhitung.””Sekarang jika saya mencurahkan energinya saya yang bekerja di ladang, saya hampir tak akan cukup untuk pakaian dan makan sendiri, namun jika saya mengamankan negara dan membentuk penguasa, manfaat dapat diteruskan kepada generasi mendatang. Saya mengusulkan untuk pergi melayani Pangeran Yiren Qin yang disandera di Zhao dan tinggal di kota Jiao. “

Menggunakan suap ala Machiavelli dan persekongkolan, Lu mengatur agar Yiren kembali pulang dan dapat diadopsi sebagai anak dan ahli waris dari Lady Huayang. Dia mengubah namanya menjadi Pangeran Chu karena dia dari negara bagian selatan. Dalam ” Shiji ” mengatakan bahwa Lu memiliki  “gadis penari yang cantik” di rumahnya, yang dengannya Chu menjadi begitu tergila-gila dan meminta agar dia dapat menjadi istrinya. Lu enggan mempersembahkan seorang pelacur untuk sang pangeran, dan mereka kembali ke Handan. Pada 259 SM, ia memiliki seorang putra bernama Zheng, yang akhirnya menyatukan Cina dan menjadi kaisar  pertama  Qin Shi Huang. Dalam ” Shiji ” menuduh bahwa ayah biologisnya adalah Lu bukan Chu. Setelah kematian Raja Zhaoxiang, Anguo dinobatkan sebagai Raja Xiaowen dari Qin, tapi dia meninggal setelah pemerintahan baru tiga bulan. jandanya Huayang menjadi Ratu Janda, dan anak angkatnya, Pangeran Chu menjadi Raja Zhuangxiang Qin di 250. Dia menunjuk lu buwei sebagai Perdana Menteri atau Chancellor untuk China dan memberikan dia  “pendapatan untuk 100.000 rumah tangga di Luoyang.” Lu mengkonsolidasikan kekuasaan di Qin dan mengawasi beberapa penaklukan militer di negara-negara tetangga. Ketika Raja Zhuangxiang meninggal pada 247 SM, Pangeran Zheng  dinobatkan yang saat itu baru berusia 13 tahun. Dia mengangkat kembali Lu sebagai Kanselir dan memanggilnya “Paman”. Sebagai kanselir dan wali, Lu mendominasi pemerintah Qin dan militer. Ia mengundang cendikiawan terkenal dari seluruh Cina ke ibu kota Qin ,Xianyang, dan mereka menyusun sebuah rangkuman ensiklopedis awal sistem filosofis Cina, ” Lushi Chunqiu ”.

Dalam ” Shiji ” berkata bahwa ibu suri melakukan banyak aktifitas seksual terlarang, dengan Lu,

takut bahwa penemuan ini akan menyebabkan bencana menimpa dia, diam-diam dia mencari seorang pria dengan penis besar, Lao Ai, yang ia jadikan sebagai pembantu nya. Kadang-kadang dia akan menampilkan pertunjukan musik dan menyuruh Lao Ai untuk memasukkan penisnya melalui roda kayu paulownia dan berjalan keliling, memastikan bahwa ibu suri  akan mendengar tentang hal itu untuk menarik perhatian dia. Ibu suri yang mendengar tentang hal itu dan akibatnya diam-diam dia berhasrat untuk mendapatkannya. Lu buwei kemudian memperkenalkan Lao Ai padanya. secara Licik dia memerintahkan seseorang untuk menuduh Lao Ai untuk kejahatan yang diancam dengan pengebirian, Lu juga secara pribadi mengatakan kepada janda queen, “Jika kita dapat  melakukan pengebirian palsu, kita bisa menjadiukan dia seorang hamba di harem.” ibu suri dengan itu diam-diam  memberi suap yang banyak kepada petugas yang mendakwa supaya melakukan hukuman  pengebirian palsu  dan kemudian  mencabut keluar alis dan janggutnya untuk membuatnya tampak seorang kasim. Akibatnya, ia menjadikannya pelayan ibu suri

ratu jatuh cinta dengan Lao dan memintanya diangkat  sebagai Marquis untuk Shanyang. Setelah ia menjadi hamil, dia secara sembrono mengambil kendali pemerintah Qin.

Dalam ” Shuoyuan ” mengatakan,: Lao Ai memiliki kewenangan penuh atas urusan negara dan tumbuh semakin sombong dan berlebihan. Para pejabat tinggi dan menteri menteri terhormat dari pemerintah semua minum dan berjudi dengan dia. Sekali saat ia mabuk, ia mulai berbicara tentang berperang. Secara provokatif di pancing, matanya melotot marah, dia berteriak “” Akulah ayah tiri kaisar. Beraninya beberapa bajingan menentang saya! “Salah satu dari mereka dengannya ia bertengkar berlari untuk melaporkan hal ini kepada kaisar, yang sangat marah mendengar hal itu. kaisar mempelajari bahwa Lao Ai bukan benar-benar seorang kasim, dan telah bersekongkol dengan Ratu untuk membuat anak haram mereka menjadi penerus. Setelah upaya pemberontakan gagal 238 SM , ratu diasingkan dan Lao Ai dieksekusi, bersama dengan tiga generasi keluarganya, termasuk dua anak-anak mereka yang dimasukkan ke dalam karung dan dipukuli sampai mati. Daripada mengeksekusi lu yang berpengaruh, kaisar menurunkan pangkatnya dan mengasingkannya. Lu yang takut  eksekusi akhirnya  “minum racun” di 235 SM. Sebagai akibat dari perselingkuhan Lao Ai, kaisar menghapus jabatan dari sebagian besar sarjana asing lu buwei dan mengembalikan ke keturunan bangsawan Qin . Setelah kematiannya, Lushi Chunqiu tidak lagi mendapat dukungan Kekaisaran Qin, tapi dibangkitkan kembali oleh penggantinya berumur panjang ,yaitu Dinasti Han

Koblock dan Riegel menggambarkan perspektif sejarah Barat dan Cina tentang lu buwei. Lu merekayasa pergantian pangeran yang masih kecil untuk takhta Qin; dan ketika itu pangeran meninggal setelah beberapa bulan di atas takhta, Lu menjadi wali untuk anak kaisar yang masih muda, dan menjadi Kaisar Pertama Qin masa depan. Di Barat, kami akan memandang Lu sebagai pedagang pangeran, pelindung budaya dan sastra, seorang negarawan terkemuka dan konselor yang bijaksana, semacam Medici pangeran yang berpengaruh tidak hanya Florence dan Italia, tapi semua peradaban Eropa. Tetapi di Cina fakta-fakta kehidupan Lu, bersama-sama dengan fakta bahwa ia berasal dari kelas pedagang dihina, mengecam Lu di mata sastrawan Han. Mereka menganggap Qin dan penyatuan China  sebagai kejahatan yang besar. Jadi Lu di mata mereka merupakan orang kaya baru dan merencanakan penipuan telah membuat  qin melakukan kejahatan . Dia adalah seorang tokoh amat buruk, orang kaya yang layak mendapatkan kecaman dan sungguh layak diejek dan di fitnah.

Meng Tian(Qin)
Meng Tian adalah seorang jenderal dari Dinasti Qin yang memisahkan antara dirinya dan xiong nu dalam pembangunan Tembok Besar China. Dia berasal dari keturunan jenderal militer dan arsitek. Pada saat Dinasti Qin menaklukkan enam negara lain dan memulai pemerintahan China yang bersatu di 221 SM, etnis Xiongnu nomaden telah tumbuh menjadi sebuah kekuatan penyerang yang kuat di utara dan mulai melakukan invasi ke timur dan barat. Qin Shihuang, kaisar pertama Dinasti Qin, mengirim 300.000 – tentara yang kuat yang dipimpin oleh Jenderal Meng Tian untuk mendorong Xiongnu ke arah utara sejauh 350 km dan membangun tembok besar untuk mencegah invasi. kecerdikan Meng Tian bisa dilihat dalam kebijakan pembangunan  yang efisien, pertimbangan topografi, dan pemanfaatan penghalang alami. Meng Tian mengawasi pembangunan sistem jalan yang menghubungkan bekas daerah Yan, Qi, Wu dan Chu, serta sejumlah ruas jalan utama untuk digunakan kekaisaran. Pada sistem tersebut akhirnya terbentuklah peran yang sangat penting dalam transportasi kuno dan pertukaran ekonomi. Ia juga dianggap sebagai penemu “kuas Tinta” dan diingat di “Huzhou Pen Festival”. Ketika kaisar Qin Shi Huang meninggal, kematian Meng itu terjadi melalui rencana persekongkolan dari Zhao Gao. Dia dipaksa untuk bunuh diri, dan keluarganya dibunuh. Tiga tahun setelah kematiannya, Dinasti Qin runtuh.

Wang Jian(qin)
Wang Jian, seorang pemimpin militer Qin di Periode Negara Perang. Ia lahir di kabupaten Guanzhong , kota Pinyang, desa Dongxiang. Dia memimpin tentara Qin dalam merebut Handan, ibukota Negara Zhao; Mengalahkan Yan, Zhao dan Chu. Dia bersama dengan Bai Qi, Lian Po dan Li Mu disebut sebagai 4 jenderal  paling bergengsi di Periode Negara Perang.

Pada 225 SM, hanya dua negara tetap independen, Chu dan Qi. Ying Zheng,pada saat itu memutuskan untuk pertama mengalahkan negara terkuat, Chu. Namun, invasi pertama mereka adalah bencana ketika tentara  utara Qin dikalahkan oleh 500.000 tentara Chu di wilayah asing dari Huaiyang, modern utara Jiangsu dan Anhui provinsi. yang disebabkan jendral Qin Li Xing, yang kurang berpengalaman.

Pada 224 SM, jenderal tua, Wang Jian, dipanggil kembali untuk memimpin invasi kedua dengan 600.000 orang. semangat Chu telah sangat meningkat setelah keberhasilan mereka mengalahkan tentara yang tampaknya tak terkalahkan dari Qin tahun sebelumnya. Pasukan Chu merasa puas dengan duduk kembali dan bertahan dan percaya bahwa itu niat Qin mengepung Chu. Namun, Wang Jian menipu pasukan Chu dengan berpura pura untuk bermain-main di benteng, tapi diam-diam melatih pasukannya untuk berperang di wilayah Chu. Setelah satu tahun, Chu memutuskan untuk membubarkan pasukan besar nya disebabkan tidak adanya tindakan. Wang Jian  pada saat terbaik dengan kekuatan penuh kemudian menyerbu Huaiyang dan memaksa kekuatan Chu yang tersisa. Selama puncaknya, baik tentara Chu dan Qin digabungkan berjumlah lebih dari 1.000.000 tentara, lebih dari pertempuran besar Changping antara Qin dan Zhao 35 tahun sebelumnya. surat pribadi yang digali dari dua tentara reguler Qin, Hei Fu dan Jin, menceritakan kampanye berkepanjangan di Huaiyang di bawah jenderal Wang Jian. Kedua tentara menulis surat meminta persediaan dan uang dari rumah untuk mempertahankan kampanye yang berkepanjangan Dengan demikian, Qin secara efektif menyatukan Cina. Ying Zheng menjadi Qin Shi Huangdi, kaisar pertama Cina beberapa tahun kemudian.

Zhang Han(Han)
Zhang Han mengalahkan pemberontakan petani yang dipimpin oleh Chen Sheng dan Wu Guang di 208 SM. Zhao Xie, Pangeran Zhao, dan Zhang Er kemudian memimpin sisa-sisa pasukan pemberontak menduduki Julu. Zhang Han akibatnya memimpin pengepungan Julu dengan 200.000 tentara. pengepungan itu dibebas oleh Xiang Yu dalam pertempuran yang terkenal di Julu. Dalam pertempuran ini, Xiang Yu menghancurkan panci memasak pasukannya sendiri, menenggelamkan kapal pasukannya sendiri, dan memberi hanya tiga hari ‘jatah untuk pasukannya sendiri. Karena tindakan ini,semangat bertempur tentara Xiang Yu menjadi meningkat. Selanjutnya, tentara Xiang Yu mengalahkan Zhang Han di sembilan pertempuran tanpa kehilangan. Zhang Han kemudian mundur untuk mempertahankan Jiyuan. Dia mengirim Sima Xin untuk mencari bala bantuan dari dinasti Qin. Setelah bala bantuan dari dinasti Qin gagal tiba disebabkan intrik Zhao Gao, Zhang Han menyerahkan pasukannya dari 200.000 tentara Qin ke Xiang Yu di 207 SM. Sementara Zhang Han diizinkan untuk hidup, pasukannya diperintahkan untuk dikubur hidup-hidup. Zhang Han kemudian dijadikan Pangeran. Bersama dengan dua lainnya menyerahkan diri, Sima Xin, Pangeran dari Sai dan Dong Yi, Pangeran dari Zhai, mereka bertugas sebagai penyangga dan penjaga untuk Liu Bang di Hanzhong dan dikenal sebagai Tiga Qin dalam sejarah Cina. Han Xin mengalahkan pasukan Zhang Han dengan taktik cerdas dalam 205 SM dan Zhang diminta untuk menyerah. Zhang Han tidak mau mencemarkan dirinya dengan menyerahkan dua kali untuk dua faksi yang berbeda dalam waktu hidupnya, dan bunuh diri.

Pertempuran Qin

Pertempuran Yique
Pertempuran Yique (伊阙 之 战) 293 SM, diperjuangkan oleh Raja Zhaoxiang dari Qin terhadap aliansi Wei (魏) dan Han (韩) di Yique (sekarang sebagai Longmen, kota Luoyang, provinsi Henan). Komandan Qin adalah jenderal Bai Qi. Dengan setengah dari kekuatan aliansi, tentara Bai Qi mengambil benteng aliansi satu persatu. Pertempuran berakhir dengan penaklukan jenderal  aliansi Gongsun Xi (公孙 喜), 240.000 korban di pihak aliansi dan penangkapan 5 kota Han dan Wei termasuk Yique. Setelah pertempuran, Han dan Wei dipaksa untuk menyerahkan tanah mereka untuk memastikan perdamaian lebih lanjut.

pada 294 SM, kerajaan Qin telah menjadi kekuatan militer besar di Cina. Langkah pertama penaklukan dimulai dengan kerajaan terdekat dari Wei dan Han. Wei dan Han telah menjadi musuh selama bertahun-tahun, dan tidak menaruh banyak perhatian kepada Qin. Pada 294 SM Qin, di bawah Jenderal Bai Qi, menyerang Han dan mengambil benteng penting. Wei dan Han menyadari kekuatan dari Qin, dan bergabung untuk menghentikan Qin dari penaklukan lebih lanjut. Pada 294 SM, Wei dan Han mengumpulkan 240.000 tentara untuk menghadapi Qin. medan perang merupakan daerah yang luas termasuk lima benteng-benteng, kota dan posisi pertahanan di sepanjang sungai dan pegunungan. Bai Qi hanya memiliki 120.000 orang di bawah komandonya. Tapi aliansi mengkhawatirkan tentara mereka lebih terlatih dan dilengkapi dengan lebih baik oleh Qin dan memutuskan melakukan pertahanan pasif. pertempuran itu menemui jalan buntu sampai 293 SM.

Bai Qi melihat bahwa Wei dan Han masih bermusuhan satu sama lain, sehingga ia memutuskan pada strategi membagi dan menaklukkan . Dia mengendalikan area tersebut untuk kelemahan  pertahanan aliansi. Dia bergerak menjauhi perhatian pasukan utama Han dengan penyergapan kecil, kemudian menyerang  posisi pertahanan Wei yang lemah dengan tentara utama Qin . Para perwira dari Wei percaya bahwa Han dengan sengaja gagal mendukung posisi tentara Wei. Permusuhan pun tumbuh lebih buruk antara kedua sekutu. Han memutuskan mempertahankan kekuatan mereka dan berhenti berusaha untuk mendukung Wei. Bai Qi oleh karena itu dapat menghindari pertempuran melawan pasukan Han. Selama beberapa bulan ke depan, ia menaklukan  posisi Wei satu per satu. Bai Qi kemudian melakukan serangan balik menghadapi pasukan Han. Akhirnya pasukan Han terjebak oleh pasukan Qin dan mereka mencoba melarikan diri. Namun kavaleri Qin memastikan bahwa tidak ada yang berhasil kembali. Gongsun Xi ditangkap.

Pertempuran ini membawa Qin berpengaruh untuk pertama kalinya ke Cina pusat. Pasukan Wei dan Han hancur setelah Pertempuran Yique. Kedua negara menyerahkan tanah kepada Qin sebagai imbalan bagi perdamaian sementara, tetapi kehancuran mereka pada akhirnya dipastikan. Qin menaklukkan Han di 230 SM, dan menaklukkan Wei di 225 SM.

Pertempuran Changping
Pertempuran Changping (長平之戰) adalah kampanye militer yang berlangsung selama periode Negara Berperang di Cina kuno. Hal ini disimpulkan di 260 SM dengan kemenangan yang menentukan oleh Negara Qin atas Negara Zhao, yang kemudian sangat melemahkan Zhao.

Qin menginvasi Negara Han di 265 SM untuk merebut kendali dari Shangdang, sekarang di zaman modern tenggara provinsi Shanxi. Shangdang itu tempat secara strategis yang terletak di sebelah barat dari Zhao dan merebutnya nya akan membuka rute invasi ke Zhao. Dalam waktu empat tahun, tentara Qin mengisolasi pusat komando dari sisa Han dengan merebut jalan utama dan benteng-benteng di Pegunungan Taihang. Shangdang itu siap untuk jatuh. Daripada melihat Qin mengambil Shangdang, Han menawarkan kendali untuk Zhao. Raja Xiaocheng dari Zhao (趙孝成 王) menerima dan mengirim Lian Po dan bala tentara untuk mengamankan wilayah strategis dari caplokan Qin  . Tentara Zhao bertemu tentara Qin, yang dipimpin oleh Wang he, di 262 SM di Changping, selatan dari Shangdang. Zhao menderita beberapa kekalahan kecil selama konfrontasi awal dengan pasukan Qin. Setelah menilai musuh, Lian Po memutuskan satu-satunya cara untuk mengalahkan Qin adalah menunggu mereka keluar, seperti Changping  yang terletak jauh dan memancing mereka semakin menjauh dari wilayah Qin daripada Zhao dan dengan demikian menjaga tentara yang disediakan akan jauh lebih berat bagi Qin. Zhao membangun beberapa benteng di musim panas 260 SM dan kemudian menunggu untuk Qin pergi. Qin berhasil menembus pertahanan sekali tetapi tidak memiliki kekuatan atau peralatan untuk memanfaatkan itu; Meskipun demikian, Qin menolak untuk pergi. Sebuah kebuntuan tiga tahun pun terjadi.

Qin mengirim agen ke Zhao dan Han untuk menyebarkan rumor / tuduhan bahwa Lian Po terlalu pengecut dan terlalu tua untuk melawan. Raja Xiaocheng dari Zhao sudah puas dengan strategi Lian Po. Lian Po kemudian digantikan oleh Zhao Kuo, putra yang terkenal,dari almarhum  jenderal Zhao ,Zhao he. Pada saat yang sama, Qin diam-diam diganti Wang he dengan jenderal terkenal Bai Qi. Menurut legenda, yang terkenal Jenderal Zhao she di ranjang kematiannya telah mengatakan kepada istrinya agar jangan membiarkan anaknya Zhao Kuo memerintahkan bala tentara. Ketika Zhao Kuo diangkat sebagai jenderal, Lady Zhao dan Menteri Lin Xiangru tidak bisa membujuk Raja Xiaocheng untuk membatalkan janji. Namun, Lady Zhao mengubah janji dari raja bahwa klan Zhao tidak akan dihukum jika Zhao Kuo gagal.

Zhao Kuo memegang komando pada bulan Juli 260 SM dari tentara diperkuat untuk sekitar 400.000 orang. [Rujukan?] Zhao Kuo mengambil bagian dari pasukannya dan menyerang kamp Qin. Bai Qi menanggapi dengan manuver  ringan seperti. Bagian dari tentara Qin mundur menuju benteng Qin, menarik Zhao Kuo setelah mereka. Sebuah tubuh yang terdiri dari 25.000 kavaleri, dan 5.000 kavaleri ringan dengan busur dan panah busur, tetap tinggal di belakang untuk memasang perangkap. Ketika serangan Zhao mencapai benteng Qin, kavaleri Qin menyerang bagian belakang Zhao Kuo saat kavaleri ringan Qin mengepung benteng Zhao. Dengan musuh yang terjebak, Bai Qi melancarkan serangan balasan. Tentara Zhao terbelah dua dan garis pasokan dipotong. Zhao Kuo tidak mampu melanjutkan serangan atau kembali ke benteng Zhao; pasukannya menggali di atas bukit dan menunggu bantuan . Sejak 295 SM, kebijakan luar negeri Zhao telah didominasi oleh paham oportunis dan telah seringkali berubah antara Hezong (合 縱) (anti-Qin aliansi) dan Lianheng (連 橫) (pro-Qin aliansi). Dengan demikian, menyertai pertempurannya di Changping berlangsung, Zhao tidak mampu mengamankan dukungan dari salah satu Negara Chu atau Negara Qi. Raja Zhaoxiang Qin menggunakan kesempatan ini untuk memobilisasi pasukan tambahan terhadap Zhao dari Henei, di zaman modern provinsi Henan; dia dianugerahi satu kelas dari peringkat bangsawan pada populasi dan memerintahkan semua pria di atas usia 15 ke Changping untuk meningkatkan pengepungan. benteng bukit Zhao Kuo dikepung selama 46 hari. Pada bulan September, setelah kehabisan makanan dan air, tentara yang putus asa beberapa kali gagal untuk keluar. Jenderal itu kemudian dibunuh oleh pemanah Qin saat memimpin pasukan terbaiknya. Tentara Zhao akhirnya menyerah. Bai Qi memerintahkan para prajurit yang ditangkap untuk dieksekusi, mungkin dengan dikubur hidup-hidup; [1] penduduk setempat bermusuhan dengan aturan Qin, dan dia khawatir para tentara yang ditangkap akan memberontak. 240 tentara termuda telah dibebaskan untuk menyebarkan teror di Zhao. Sima Qian mengklaim lebih dari 450.000 tentara Zhao tewas selama dan setelah pertempuran. Kaisar Tang Xuanzong (685-762) kemudian membangun sebuah kuil di atas kumpulan dari beberapa sisa-sisa manusia, dan tulang terus ditemukan di situs. [2] [Mati link] Sebelum kampanye, Zhao telah menjadi salah satu yang paling kuat dari Negara Berperang. Kampanye ini menunjukan ancaman Qin secara langsung, tiga tahun perang finansial dan dalam negeri kedua negara. Namun, Zhao tidak pernah pulih dari kekalahan, yang memungkinkan Qin untuk mendapatkan dominasi militer atas negara-negara lain. Pada 221 SM, Qin akan menggunakan dominasi ini untuk menyatukan China.

Qin’s wars of unification
perang  penyatuan Qin adalah serangkaian kampanye militer diluncurkan pada akhir abad ke-3 SM oleh negara Qin terhadap enam negara besar lainnya – Han, Zhao, Yan, Wei, Chu dan Qi – dalam wilayah yang membentuk China modern. Menjelang akhir perang di 221 SM, Qin telah menyatukan sebagian besar negara dan menduduki beberapa tanah selatan Sungai Yangtze. Wilayah yang ditaklukkan oleh Qin bekerja sebagai dasar dari dinasti Qin. Selama periode Negara Berperang, negara Qin telah berkembang menjadi yang paling kuat dari tujuh negara besar di Cina. Pada 238 SM, Ying Zheng datang atas tahta Qin setelah menghilangkan saingan politiknya lu buwei dan Lao Ai. Dengan bantuan dari Li Si, Wei Liao (尉 繚) dan lain-lain, Ying Zheng menyusun sebuah rencana untuk menaklukkan enam negara besar lainnya dan menyatukan Cina.

Rencananya, yang memfokuskan pada menganeksasi setiap negara secara individual, didasarkan pada “bersekutu dengan negara jauh dan menyerang orang-orang terdekat”, salah satu dari Tiga puluh Enam SIASAT. langkah kuncinya adalah: bersekutu dengan Yan dan Qi; tahan Wei dan Chu; taklukan Han dan Zhao.

Penaklukan Han
Han adalah yang paling lemah dari tujuh negara bagian dan sebelumnya sudah tunduk pada berbagai serangan oleh Qin, yang menyebabkan hal itu terjadi secara drastis dan semakin melemah. Pada 230 SM, tentara Qin yang dipimpin oleh Menteri Dalam Negeri Teng (內 史 騰) pindah ke selatan, menyeberangi Sungai Kuning dan menaklukkan Zheng (鄭; kini Xinzheng, Zhengzhou, Henan), ibukota Han, dalam waktu satu tahun. Raja An dari Han menyerah dan Han berada di bawah kendali Qin. Wilayah Han di atur untuk membentuk  Kekaisaran  Qing Yingchuan Commandery (潁 川 郡) dengan Ibukota Commandery di Yangzhai. (陽翟; kini Yuzhou, Xuchang, Henan) [2]

Penaklukan Zhao
Pada 236 SM, sementara Zhao menyerang Yan, Qin menggunakan kesempatan ini untuk mengirim dua kekuatan yang terpisah untuk menyerang Zhao. Tentara Qin yang dipimpin oleh Wang Jian menaklukkan wilayah Zhao dari Eyu (閼 與; kini Heshun County, Jinzhong, Shanxi) dan Liaoyang (撩 陽; kini Zuoquan County, Jinzhong, Shanxi), sementara tentara Qin lain di bawah perintah Huan Yi (桓 齮) [b] dan yang Duanhe (楊 端 和) merebut Ye (鄴; kini Ci County, Handan, Hebei) dan Anyang (安陽; kini Anyang County, Anyang, Henan) . Zhao kehilangan sembilan kota dan kekuatan militernya melemah. [3] Dua tahun kemudian, Qin berencana menyerang Han, tetapi takut bahwa Zhao mungkin membuat dukungan ke Han, sehingga memerintahkan Huan Yi untuk memimpin pasukan untuk menyerang Zhao Pingyang (平陽; sebelah tenggara dari kini Ci County, Handan, Hebei) dan Wucheng (武 城; barat daya dari kini Ci County, Handan, Hebei). Lebih dari 100.000 tentara tewas dalam pertempuran. Tentara Zhao dikalahkan dan komandannya, Hu Zhe (扈 輒), tewas dalam aksi. [4] Pada 233 SM, tentara Huan Yi menyeberangi Gunung Taihang dan menaklukkan wilayah Zhao Chili (赤 麗) dan Yi’an (宜安), keduanya terletak sebelah tenggara dari kini Shijiazhuang, Hebei. Pada 232 SM, pasukan Qin dibagi menjadi dua kelompok untuk menyerang Fanwu (番 吾; kini Lingshou County, Handan, Hebei) dan Langmeng (狼 孟; kini Yangqu County, Taiyuan, Shanxi), namun dikalahkan oleh Zhao tentara yang dipimpin oleh Li Mu. [3] Huan Yi melarikan diri ke Yan untuk menghindari hukuman untuk kekalahannya. [3] Namun, pasukan Zhao juga menderita kerugian besar dan hanya bisa mundur untuk mempertahankan ibukota mereka, Handan. Dalam dua tahun berikutnya, Zhao telah terkena oleh dua bencana alam – gempa bumi dan bencana kelaparan. Pada 229 SM, Qin mengambil keuntungan dari situasi untuk meluncurkan serangan menjepit dari utara dan ke selatan pada Handan, ibukota Zhao. Tiga tentara Qin berangkat dari Shangdi (上 地; di kini Shaanxi Utara), Jingxing (井陉; kini Jingxing County, Shijiazhuang, Hebei) dan Henei (河內; kini Xinxiang, Henan), masing-masing dipimpin oleh Wang Jian , Jiang Lei (羌 瘣) dan yang Duanhe, untuk mengkoordinasikan serangan terhadap Handan. Li Mu dan Sima Shang (司馬 尚) ditempatkan di komando tentara Zhao. Li Mu memerintahkan pasukannya untuk membangun struktur defensif dan menghindari konfrontasi langsung dengan musuh. Pasukan Qin tidak dapat maju lebih lanjut dan kedua belah pihak mencapai jalan buntu.

Negara Qin menyuap Guo Kai (郭開), seorang menteri Zhao, untuk menabur perselisihan antara Raja Qian dari Zhao (趙王 遷) dan Li Mu. raja meragukan kesetiaan Li Mu dan memerintahkan Li untuk menyerahkan kekuasaannya kepada wakilnya, Zhao Cong (趙 蔥) dan Yan Ju (顏 聚). Ketika Li Mu menolak untuk patuh, raja menjadi lebih curiga padanya dan memerintahkan anak buahnya untuk  menangkap dia dengan tiba tiba. setelahnya Li Mu dieksekusi di penjara atas  perintah Raja Qian. Pada 228 SM, setelah mengetahui bahwa Li Mu telah diganti, pasukan Qin menyerang, mengalahkan tentara Zhao dan menaklukkan Dongyang (東陽; timur dari Gunung Taihang). Zhao Cong tewas dalam aksi sementara Yan Ju melarikan diri setelah kekalahannya. [3] Tujuh bulan kemudian, pasukan Qin menduduki Handan dan menangkap Raja Qian, membawa mengakhiri keberadaan Zhao.

Penaklukan Yan
Pada 228 SM, setelah jatuhnya Zhao, tentara Qin yang dipimpin oleh Wang Jian dan ditempatkan di Zhongshan dipersiapkan untuk serangan atas Yan. Ju Wu (鞠 武), seorang menteri Yan, diusulkan untuk Raja Xi Yan untuk membentuk aliansi dengan Dai, Qi dan Chu, dan berdamai dengan Xiongnu di utara, untuk melawan invasi Qin. Namun, Putra Mahkota Dan merasa bahwa strategi aliansi tidak mungkin untuk berhasil, sehingga ia mengirim Jing Ke untuk membunuh Ying Zheng, raja Qin. Jing Ke pergi ke Qin dengan berpura-pura menjadi seorang utusan, dengan membawa peta Dukang [c] dan kepala Fan Wuji, [d] Jenderal pengkhianat Qin . Jing Ke gagal dan meninggal dalam usahanya pada kehidupan Ying Zheng. Pada 226 SM, menggunakan upaya pembunuhan sebagai alasan, Ying Zheng memerintahkan Wang Jian untuk memimpin pasukan untuk menyerang Yan, dengan Meng Wu (蒙武) sebagai wakil Wang. Pasukan Qin mengalahkan tentara Yan dan pasukan bantuan Yan dari Dai dalam pertempuran di tepi timur Sungai Yi (易水), setelah itu mereka menaklukkan Ji (薊; kini Beijing)., Ibukota Yan [5] Raja Xi Yan dan putranya, Putra Mahkota Dan, memimpin pasukan yang tersisa mereka mundur ke Semenanjung Liaodong. Sebuah pasukan Qin yang dipimpin oleh Li Xin (李 信) mengejar pasukan Yan mundur ke Sungai Yan (衍 水; kini Hun River, Liaoning), di mana mereka terlibat pertempuran dengan pasukan musuh dan menghancurkan sebagian besar tentara Yan. Kemudian, Raja Xi memerintahkan eksekusi Mahkota Dan dan mengirim kepala anaknya ke Qin sebagai “permintaan maaf” untuk percobaan pembunuhan. Qin menerima tawaran itu dan tidak menyerang Yan untuk tiga tahun ke depan. Pada 222 SM, tentara Qin yang dipimpin oleh Wang Ben (王 賁) menyerbu Liaodong dan menghancurkan pasukan yang  tersisa dari Yan dan menangkap Raja Xi, untuk mengakhiri keberadaan Yan. [6] Bekas wilayah Yan yang dibagi dan ditata kembali untuk membentuk Kekaisaran Qin Yuyang (漁陽), Beiping (北平), Liaoxi (遼西) dan Liaodong (遼東) commanderies.

Penaklukan Wei
Pada 225 SM, 600.000 pasukan Qin yang kuat yang dipimpin oleh Wang Ben (王 賁) menaklukkan lebih dari sepuluh kota di perbatasan utara Chu sebagai langkah pencegahan untuk menjaga sisi dari kemungkinan serangan dari Chu sementara Qin adalah menyerang Wei. [7] Wang Ben kemudian memimpin pasukannya ke utara untuk menyerang dan mengepung Daliang (大梁; barat laut dari kini Kaifeng, Henan), ibukota Wei. Sebagai Daliang terletak di concourse sungai Sui dan Ying dan Hong Canal (鴻溝), lokasi geografis memberikannya keuntungan defensif alami. Selain itu, parit sekitar Daliang sangat luas dan semua lima gerbang kota memiliki drawbridges, sehingga lebih sulit bagi pasukan Qin untuk menembus kota. Pasukan Wei menggunakan kesempatan untuk memperkuat benteng dan pertahanan mereka. Wang Ben datang dengan ide mengarahkan air dari Sungai Kuning dan Hong Canal untuk membanjiri Daliang. Pasukan Wang Ben bekerja selama tiga bulan untuk mengarahkan aliran air sambil mempertahankan pengepungan di Daliang, dan berhasil dalam rencana mereka. [7] Daliang itu mengalami banjir dan lebih dari 100.000 orang meninggal, termasuk warga sipil. Raja Jia Wei (魏王 假) menyerah dan Wei berada di bawah kendali Qin. [8] Qin mendirikan commanderies dari Dang (碭) dan Sishui (泗水) di bekas wilayah Wei

Penaklukan Chu
Pada 224 SM, Ying Zheng menyerukan pertemuan dengan rakyatnya untuk membahas rencananya untuk invasi Chu. Wang Jian merasa bahwa mereka membutuhkan setidaknya 600.000 tentara untuk kampanye, sementara Li Xin (李 信) menyatakan bahwa kurang dari 200.000 orang akan cukup. Ying Zheng menolak gagasan Wang Jian dan memerintahkan Li Xin dan Meng Wu (蒙武) untuk memimpin tentara dari sekitar 200.000 untuk menyerang Chu. [9] Wang Jian pensiun dengan alasan sakit. tentara Qin mencetak kemenangan awal sebagai motor Li Xin menaklukkan Pingyu (平輿; utara dari kini Pingyu County, Zhumadian, Henan) sementara Meng Wu merebut Qinqiu (寢 丘; kini Linquan County, Fuyang, Anhui). Setelah menaklukkan Yan (鄢; kini Yanling County, Xuchang, Henan), Li Xin memimpin pasukannya barat untuk bertemu dengan Meng Wu di Chengfu (城 父; timur dari kini Baofeng County, Pingdingshan, Henan). Chu pasukan, dipimpin oleh Xiang Yan (項 燕), telah menghindari menggunakan kekuatan utama dalam melawan penjajah Qin sambil menunggu kesempatan untuk melancarkan serangan balik. [9] Selama ini, penguasa Changping, seorang kerabat dari Ying Zheng yang berasal dari keluarga kerajaan Chu, menghasut pemberontakan di kota yang sebelumnya dikuasai oleh Li Xin. Dia juga siap untuk serangan kejutan atas Li Xin kemudian. Tentara Chu dipimpin oleh Xiang Yan diam-diam mengikuti Li Xin dengan kecepatan tinggi selama tiga hari tiga malam sebelum meluncurkan serangan kejutan. [9] Pasukan milik penguasa Changping ini mengikuti dari belakang dan bergabung dengan tentara Xiang Yan dalam menyerang Li Xin. Sebagian besar pasukan Li Xin hancur dalam pertempuran. Setelah belajar dari kekalahan Li Xin, Ying Zheng secara pribadi mengunjungi Wang Jian, yang di masa pensiun, meminta maaf karena tidak mengindahkan saran Wang sebelumnya, dan mengundang Wang kembali untuk melayani di istana. Sesuai dengan permintaan Wang Jian, Ying Zheng menempatkan dia sebagai pimpinan dari 600.000 tentara dan menugaskan Meng Wu menjadi wakil Wang. Wang Jian menyadari bahwa raja akan meragukan kesetiaannya karena ia memegang kekuasaan militer terlalu banyak, sehingga ia sering mengirim utusan kepada raja, meminta untuk hadiah untuk keluarganya sehingga dapat mengurangi kecurigaan raja. Pada 224 SM, pasukan Wang Jian melewati selatan dari Chen (陳; kini Huaiyang County, Zhoukou, Henan) dan membuat kamp di Pingyu. Pasukan Chu, yang dipimpin oleh Xiang Yan, menggunakan kekuatan penuh mereka untuk melancarkan serangan di kamp Qin tapi gagal. [9] Wang Jian memerintahkan pasukannya untuk mempertahankan posisi mereka dengan kuat dan menghindari maju lebih jauh ke wilayah Chu. [9] Setelah gagal untuk memikat tentara Qin menyerang, Xiang Yan memerintahkan pasukannya untuk mundur dan Wang Jian mengambil kesempatan untuk meluncurkan serangan balasan kejutan. Pasukan Qin mengejar pasukan mundur Chu ke Qinan (蕲 南; barat laut dari kini Qichun County, Huanggang, Hubei), di mana Xiang Yan tewas dalam aksi [e] dalam pertempuran berikutnya. Pada 223 SM, Qin meluncurkan serangan lain atas Chu dan merebut Shouchun (壽春; kini Shou County, Lu’an, Anhui), ibukota Chu. Fuchu, raja Chu, ditangkap dan Chu dianeksasi oleh Qin. [9] [10] Tahun berikutnya, Wang Jian dan Meng Wu memimpin pasukan Qin menyerang wilayah Wuyue (mencakup kini Zhejiang dan Jiangsu), yang dihuni oleh Baiyue, dan menangkap keturunan keluarga kerajaan Yue. [10] wilayah Wuyue ditaklukkan menjadi  Kekaisaran Qin Kuaiji Commandery.

Penaklukan Qi
Pada 264 SM, Tian Jian naik tahta Qi dan dibantu oleh ibunya, janda queen, dalam mengelola urusan negara. Qin menyuap Hou Sheng (後 勝), kanselir Qi, untuk mencegah Raja Jian mulai dari membantu negara-negara lain sementara mereka sedang diserang oleh Qin. pada  221 SM, Qi adalah satu-satunya negara di Cina yang belum ditaklukkan oleh Qin. Qi kemudian  bergegas mengerahkan tentara terhadap perbatasan barat sebagai perlindungan terhadap kemungkinan invasi Qin , meskipun militer tidak dilengkapi dengan baik dan moral pasukan yang rendah.

Pada 221 SM, setelah penaklukan Qi, Ying Zheng menyatakan dirinya “Qin Shi Huang” (秦始皇; harfiah “Kaisar Pertama Qin”) dan mendirikan Dinasti Qin. Qin Kekaisaran dibagi menjadi 36 prefektur, dengan Xianyang sebagai ibukotanya. Qin Shi Huang menciptakan negara yang tersentralisasi dan kerajaan yang akan menjadi landasan dinasti Cina di masa depan. Meskipun Dinasti Qin berlangsung selama 15 tahun saja, pengaruhnya terhadap sejarah Cina berlangsung selama berabad-abad yang akan datang. Pada 209 SM, pada masa pemerintahan Qin Er Shi, putra dan penerus Qin Shi Huang, Chen Sheng dan Wu Guang memulai pemberontakan di Dazexiang untuk menggulingkan dinasti Qin karena kebijakan brutal dan pemerintah Qin yang menindas . Meskipun pemberontakan itu ditumpas oleh pasukan kekaisaran, beberapa pemberontakan lainnya juga mulai berturut-turut di seluruh China selama tiga tahun ke depan. penguasa Qin Terakhir , Ziying, menyerah kepada pasukan pemberontak yang dipimpin oleh Liu Bang di 206 SM, yang membawa akhir dari dinasti Qin. Beberapa pasukan pemberontak mengaku ingin mengembalikan bekas negara-negara yang dianeksasi oleh Qin dan banyak dari mereka berpura-pura sebagai penguasa negara sebelumnya. Pada 206 SM, Xianyang diduduki dan dijarah oleh pasukan Xiang Yu, keturunan Chu Jenderal Xiang Yan.

Pemilik PT Lampung Service ( Nino Nurmadi ) atau Lebih di Kenal Masyarakat Lampung & Indonesia Cv Lampung Service Lampunginfo.com Portal Berita Terbaik Lampung & Indonesia. Pemasaran Kontak : 081366574266 Alamat : Jalan Raya Bumi Sari Natar Gang Bima Ruko Orange / Cv Lampung Service, Jalan Bima, Bumisari, Kabupaten Lampung Selatan, Lampung , 35362, Indonesia website : http://www.lampungservice.com/ PUSAT PELATIHAN KURSUS TERBAIK DI INDONESIA Kursus & Service All Elektronik Kontak : 081366574266


Pemilik PT Lampung Service ( Nino Nurmadi ) atau Lebih di Kenal Masyarakat Lampung & Indonesia Cv Lampung Service

Lampunginfo.com Portal Berita Terbaik Lampung & Indonesia. Pemasaran Kontak : 081366574266 Alamat : Jalan Raya Bumi Sari Natar Gang Bima Ruko Orange / Cv Lampung Service, Jalan Bima, Bumisari, Kabupaten Lampung Selatan, Lampung , 35362, Indonesia website : http://www.lampungservice.com/ PUSAT PELATIHAN KURSUS TERBAIK DI INDONESIA Kursus & Service All Elektronik Kontak : 081366574266